Hal tersebut disampaikan Dirut PPA Mohammad Syahrial usai rapat dengan Menkeu Sri Mulyani di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (31/7/2008).
"Ya, karena kebanyakan kompetitor, jadi aset-aset lain banyak yang lebih bagus, jadi kita gak boleh underestimate lah, lalu kemudian mungkin timing-nya yang kurang pas, lalu kita kan jualnya dalam sistem paket," ujarnya memerinci alasan kurang lakunya aset PPA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirjen Kekayaan Negara Hadiyanto di tempat yang sama menuturkan pihaknya berharap PPA menuntaskan penjualan aset pada bulan November 2008.
"Kita harapkan pada bulan November last transaction, kalau masih ada yang tersisa, nanti itu setelah PPA bubar akan dikelola oleh Menkeu," ujarnya.
Mengenai aset yang belum dijual PPA, Hadiyanto menegaskan PPA tetap harus menjual aset dengan harga yang lebih tinggi.
"Dia juga memilih antara market value atau NJOP, sudah ditetapkan harga dasarnya oleh Menkeu yaitu NJOP dan market value. Kalau market value 100, NJOP 110 yang dipake 110, kalau NJOP 110, market value 100 ya tetap dipakai yang lebih tinggi," ujarnya.
Laku atau tidaknya suatu aset memang tergantung pasar. "Kalau orang percaya feng shui tanah bergelombang juga dibeli," ujar Hadiyanto.
Total aset properti yang dikelola PPA sampai dengan per 15 Maret 2008 adalah sebanyak 3.561 unit aset yang tersebar dibeberapa kota di Indonesia dan terdiri dari beberapa Tipe Aset. Sebagian besar aset itu terletak di Provinsi Banten.
(hen/ddn)











































