Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Sutomo, Jakarta, Jumat (1/8/2008).
"Ekspor ke AS masih besar meskipun dia menjadi pioner terhadap resesi yang terjadi di dunia, kita bersyukur pasar ekspor kita ke AS masih cukup kuta bahkan paling besar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor nonmigas Juni 2008 mencapai US$ 9,91 miliar, naik 2,50 persen dibanding Mei 2008, sedangkan dibanding ekspor Juni 2007 naik 28,26 persen.
Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juni 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,19 miliar, disusul Jepang US$ 1,00 miliar dan China US$ 763,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 29,77 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,45 miliar.
Ekspor terbesar pada lemak dan minyak hewan nabati yang naik US$ 153,6 juta menjadi US$ 2,062 miliar Penurunan terbesar pada kertas dan karton sebesar US$ 45,9 juta menjadi US$ 328 juta
Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2008 mencapai US$ 70,45 miliar atau meningkat 30,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 54,38 miliar atau meningkat 23,20 persen.
"Kalau tidak ada aral melintang dan tidak ada gangguan terhadap negara pasar ekspor sampai setahun bisa mencapai US$ 140-150 miliar," ujarnya.
Rusman beralasan dalam sejarahnya ekspor di semester II selalu lebih besar dibanding semester I, jadi kalau tidak ada hal yang luar biasa maka ekspor dalam tahun ini bisa mencapai US$ 140-150 miliar," ujarnya.
Impor RI
Sementara itu nilai impor Indonesia Juni 2008 mencapai US$ 12,02 miliar atau meningkat 3,13 persen dibanding Mei 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$ 3,59 miliar (29,82 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 8,44 miliar (70,18 persen).
Sedangkan selama Semester I 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$ 65,05 miliar dengan impor migas sebesar US$ 16,70 miliar (25,67 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 48,36 miliar (74,33 persen).
Impor mesin pesawat mekanik merupakan impor terbesar yang mencapai US$ 8,66 miliar atau 17,91 persen.
Rusman menambahkan surplus perdagangan RI terus berkurang dan pada bulan Juni surplus hanya tercatat sekitar US$ 900 juta.
"Tapi memang sejak Januari sampai Juni ini, nilai surplus terus berkurang karena kenaikan impor yang terus terjadi," ujarnya.
Akan tetapi jika dihitung selama semester I-2008, surplus perdagangan masih tersisa sekitar US$ 5,4 miliar.
(ddn/qom)










































