Ekspor RI ke AS Belum Terganggu Krisis Subprime

Ekspor RI ke AS Belum Terganggu Krisis Subprime

- detikFinance
Jumat, 01 Agu 2008 15:26 WIB
Ekspor RI ke AS Belum Terganggu Krisis Subprime
Jakarta - Perekonomian AS masih lesu gara-gara krisis subprime mortgage. Namun Indonesia masih bisa bernafas lega. Ekspor non migas Indonesia ke negara Paman Sam itu masih kuat, bahkan di bulan Juni, ekspor Indonesia ke AS kembali mengalahkan ekspor ke Jepang dan China.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Sutomo, Jakarta, Jumat (1/8/2008).

"Ekspor ke AS masih besar meskipun dia menjadi pioner terhadap resesi yang terjadi di dunia, kita bersyukur pasar ekspor kita ke AS masih cukup kuta bahkan paling besar," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nilai ekspor Indonesia Juni 2008 mencapai US$ 12,90 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen dibanding ekspor Mei 2008. Sementara bila dibanding ekspor Juni 2007 mengalami peningkatan sebesar 34,92 persen.

Ekspor nonmigas Juni 2008 mencapai US$ 9,91 miliar, naik 2,50 persen dibanding Mei 2008, sedangkan dibanding ekspor Juni 2007 naik 28,26 persen.

Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juni 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,19 miliar, disusul Jepang US$ 1,00 miliar dan China US$ 763,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 29,77 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,45 miliar.

Ekspor terbesar pada lemak dan minyak hewan nabati yang naik US$ 153,6 juta menjadi US$ 2,062 miliar Penurunan terbesar pada kertas dan karton sebesar US$ 45,9 juta menjadi US$ 328 juta

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2008 mencapai US$ 70,45 miliar atau meningkat 30,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 54,38 miliar atau meningkat 23,20 persen.

"Kalau tidak ada aral melintang dan tidak ada gangguan terhadap negara pasar ekspor sampai setahun bisa mencapai US$ 140-150 miliar," ujarnya.

Rusman beralasan dalam sejarahnya ekspor di semester II selalu lebih besar dibanding semester I, jadi kalau tidak ada hal yang luar biasa maka ekspor dalam tahun ini bisa mencapai US$ 140-150 miliar," ujarnya.

Impor RI

Sementara itu nilai impor Indonesia Juni 2008 mencapai US$ 12,02 miliar atau meningkat 3,13 persen dibanding Mei 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$ 3,59 miliar (29,82 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 8,44 miliar (70,18 persen).

Sedangkan selama Semester I 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$ 65,05 miliar dengan impor migas sebesar US$ 16,70 miliar (25,67 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 48,36 miliar (74,33 persen).

Impor mesin pesawat mekanik merupakan impor terbesar yang mencapai US$ 8,66 miliar atau 17,91 persen.

Rusman menambahkan surplus perdagangan RI terus berkurang dan pada bulan Juni surplus hanya tercatat sekitar US$ 900 juta.

"Tapi memang sejak Januari sampai Juni ini, nilai surplus terus berkurang karena kenaikan impor yang terus terjadi," ujarnya.

Akan tetapi jika dihitung selama semester I-2008, surplus perdagangan masih tersisa sekitar US$ 5,4 miliar.
(ddn/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads