Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi mengatakan, selain masalah penurunan harga CPO internasional, diskriminasi tarif bea masuk yang dilakukan Pakistan kepada ekspor CPO Indonesia juga mengganggu kinerja ekspor CPO.
"Kita lihat ekspor ke Pakistan sebagai hal penting, kita mencermati bahwa dibanding tahun lalu ekspor kita dalam 6 bulan terakhir turun sampai hampir 350.000 ton ke Pakistan, jadi kita lost (rugi) dalam pendapatan hampir sekitar Rp 800 miliar, ini terjadi karena kebijakan dari Pakistan yang memberikan perlakuan yang berbeda untuk Indonesia dan Malaysia," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bea masuknya flat sehingga harga Malaysia di Pakistan lebih murah dari Indonesia sebesar US$ 17 per ton," jelasnya.
Pakistan dikatakan Bayu menjadi negara penting bagi ekspor CPO Indonesia, untuk menjadi pintu masuk ke negara-negara lainnya yang berdekatan.
"Karena Pakistan menjadi pintu masuk bagi negara tan tan lainnya, yaitu tans brothers seperti Afghanistan, Kirgistan. Itu cukup besar permintaannya, kita sedang coba selesaikan. Mudah-mudahan Agustus sudah selesai pembahasannya sehingga misi dagang bisa dikirim ke sana sehingga kita bisa dapatkan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya, ujungnya nanti tidak ada lagi pembedaan antara Indonesia dan Malaysia, Indonesia juga nanti akan dapat diskon," paparnya.
Bayu mengatakan sebelum ada diskriminasi ini, pangsa pasar CPO antara Indonesia dan Malaysia ke Pakistan berimbang masing-masing 50%.
"Tapi sekarang pangsa ekspor Malaysia ke Pakistan sudah mendekati 65%, sementara Indonesia turun sampai 35%, itu volumenya, bukan nilainya. Ekspor CPO kita 12 juta ton/tahun, turun dalam sebulan ini belum cukup besar. Tahun ini kita produksi 18 juta/tahun tetapi jangan sampai turun dulu," katanya.
(dnl/ddn)











































