Selama ini Malaysia melalui hubungan perdagangan free trade area (FTA) dengan Pakistan telah mendapat fasilitas bea masuk yang rendah dibandingkan dengan Indonesia. Sedangkan Indonesia dan Pakistan hanya dalam sebatas hubungan kerjasama biasa.
"Pakistan kita mau garap segera karena kita ketahui Malaysia sudah bea masuknya lebih baik, padahal kita sebelumnya pemasok utama dari Pakistan," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Depdag Diah Maulida di gedung Depdag, Jl Ridwan Rais Jakarta, Jumat (1/8/2008).
Diah mengatakan selama ini Malaysia memperoleh penerapan bea masuk 10% lebih rendah dari Indonesia, dari 4 macam tax yang dikenakan untuk produk CPO di Pakistan.
"Kita akan negosiasi dengan Pakistan pada tahun ini untuk mendapatkan lebih baik dari bea masuk Malaysia, rencananya Agustus kita lakukan," jelasnya.
Ia menambahkan sebelumnya asosiasi yang terkait produk CPO dan sawit yaitu Gapki dan Gimni sudah melakukan penjajakan bertemu dengan kalangan importir Pakistan guna memperluas pasar CPO di sana.
Mengenai nilai ekspor non migas bulan Juni yang masih didominasi oleh produk minyak nabati termasuk CPO, ia mengatakan hal itu disebabkan salah satunya oleh upaya dari produsen untuk menggenjot ekspor sebagai antisipasi kenaikan PE CPO pada bulan Juli yang mencapai 20%.
"Juli 20%, agustus 15%, karena polanya yang saya lihat mereka mengebut pada bulan Juni karena PE nya lebih rendah kalau mereka melihat ada kenaikan dari situ saya lihat baru bisa lihat," katanya.
(hen/ddn)










































