Sektor Migas Sedot Devisa RI

Sektor Migas Sedot Devisa RI

- detikFinance
Minggu, 03 Agu 2008 11:58 WIB
Sektor Migas Sedot Devisa RI
Jakarta - Selama produksi migas tidak bisa ditingkatkan, defisit dalam perdagangan minyak dan gas di Indonesia akan terus membengkak. Era migas bagi Indonesia sudah lewat.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Minggu (3/8/2008).

"Kondisi ini sebenarnya juga mencerminkan era migas yang memang sudah lewat. Kita sudah tidak bisa lagi mengandakan migas dalam neraca perdagangan luar negeri kita," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sektor migas kini ikut-ikutan menjadi sektor yang menyedot devisa dalam jumlah yang besar untuk mengimpor minyak, padahal dulu sektor ini menjadi andalan untuk memperkuat devisa.

Selama produksi migas tidak bisa ditingkatkan, konsumsi BBM dalam negeri tidak dikendalikan dan selama tidak ada pmbangunan kilang minyak baru, defisit ini akan terus terpelihara. "Bahkan makin mmbesar terus kedepannya," ujarnya.

Defisit perdagangan migas terus terjadi karena impor BBM Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat terus. Angkanya menurut Pri mencapai 5-6 persen per tahun. Angka yang setara dengan pertumbuhan ekonomi secara keseleruhan. Di sisi lain ekspor minyak mentah menurun terus.

Neraca perdagangan minyak dan gas di bulan Juni berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mengalami defisit. Besaran defisitnya kini malah bertambah menjadi sekitar US$ 600 juta.

Defisit migas di bulan April 2008 tercatat sebanyak US$ 350 juta, angka ini sempat menyusut menjadi US$ 50 juta pada bulan Mei 2008. (ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads