Industri Semen dan Kimia Sulit Alihkan Jam Kerja

Industri Semen dan Kimia Sulit Alihkan Jam Kerja

- detikFinance
Selasa, 05 Agu 2008 14:16 WIB
Industri Semen dan Kimia Sulit Alihkan Jam Kerja
Jakarta - Pengalihan jam kerja industri yang akan diberlakukan bulan ini ternyata sulit untuk diikuti oleh pabrik semen dan kimia. Kedua jenis industri ini harus berjalan selama 24 jam.

"Khusus untuk industri tertentu memang susah untuk dialihkan seperti industri kimia dan industri semen itu tidak bisa dialihkan karena ada proses kerja yang harus berjalan selama 24 jam," kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa.

Hal itu diungkapkan Erwin, usai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (5/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun untuk industri yang tidak beroperasi 24 jam, pengalihan jam kerja ke Sabtu dan Minggu dalam satu bulan menurut Erwin tidak masalah. "Seperti industri sepatu atau makanan itu bisa dialihkan," ujarnya.

Meski begitu, Erwin Hipmi mendukung program tersebut dan berharap program tersebut bisa berjalan dengan baik. Apalagi shifting juga sudah banyak dilakukan industri sejak dulu.

Mengenai rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk industri, Erwin mengingatkan agar dilakukan dengan selektif. Karena tidak semua industri bisa menanggung biaya listrik baru.

"Industri makanan di kelas bawah, UMKM harus tetap disubsidi tapi beberapa industri yang sudah windfall kalau masih disubsidi itu memalukan seperti industri batubara," katanya.

Erwin menjelaskan saat ini perlunya fokus kerja dengan negara-negara maju baru seperti Brazil, Rusia, India dan China (BRIC). Tak lupa juga negara-negara Timur Tengah yang lagi kebanjiran dana dari naiknya harga minyak mentah.

Kerja sama tersebut sudah mulai dilakukan oleh Hipmi dengan kepengurusan lama dengan mulai membuka jaringan.

"Hasil dari kunjungan itu (ke Timur Tengah) juga berdampak pada kita. Pada bulan Oktober nanti pengusaha-pengusaha dari sana akan datang ke Indonesia. Hasil yang didapat dari sana adalah network yang sudah didapat. Mereka kebanyakan main di properti, mereka meliht propek yang bisa digarap dengan kita," katanya.

Sedangkan kerja sama dengan negara-negara BRIC, Hipmi berharap bisa lebih difokuskan. Untuk Rusia banyak produk-produk dagang Rusia yang belum masuk ke Indonesia. "Mungkin ini bagus untuk membuka kerja sama dengan kita membuka agen-agen produk Rusia di Indonesia," ujar Erwin.

Sedangkan untuk China karena industri menengahnya banyak yang bagus. India karena memiliki teknologi yang berkembang serta Brazil yang maju di bidang agro industri. (ir/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads