Hal ini dikatakan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di gedung Departemen Perdagangan (Depdag), Jakarta, Selasa (5/8/2008).
Beberapa tahun ini pemerintah tengah menggalakan pengembangan industri kreatif seperti seni musik, desain, animasi, program software dan lain-lain. Namun aspek permodalan masih mengganjal sektor yang berpotensi berkembang di masa depan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, ia mengharapkan bank-bank lain bisa segera mengikuti langkah BNI untuk melirik Industri kreatif yang sangat berprospek.
"Dimana-mana di dunia ekonomi kreatif belum terlalu dikenal oleh perbankan, kalau di BI mungkin belum ada tuh ekonomi kreatif," tuturnya.
Untuk mendukung aspek kepercayaan bank terhadap industri kreatif pemerintah dalam cetak biru ekonomi kreatif mencanangkan tahap penguatan industri kreatif yang dilakukan pada tahun 2008 sampai 2015 diantaranya, mendukung pengembangan teknologi, sumber daya manusia, permodalan dan aspek penghargaan Hak kekayaan intelektual.
"Pada periode ini kita harapkan bisa muncul 200 brand lokal yang terpercaya," katanya.
Diakuinya hingga kini kota yang mengembangkan industri kreatif masih terbatas di Bandung, Bali dan Jogjakarta, Untuk selanjutnya pemerintah berencana terus mengembangkan kota-kota lainnya.
"Perkembangannya kota ini memang natural, daerah yang akan kita kembangkan menjadi dua kali lipat yang sekarang 3 menjadi 6 misalnya," ujarnya.
Berkembangnya industri kreatif di tanah air menurut Mari, bisa dilihat dari tingkat konsumsi musik Indonesia yang hampir 80% adalah produksi lokal, bahkan dapat ditunjukan semakin populernya batik di masyarakat.
"Suatu hal yang menggembirakan, sekarang ini kata ekonomi kreatif mulai baku, bahkan saya dapat laporan konsumsi film Indonesia sudah 60%, dari waktu lalu yang hanya 40%, sekarang sudah kebalikannya," ungkapnya
(hen/qom)











































