Perbankan Belum Lirik Industri Kreatif

Perbankan Belum Lirik Industri Kreatif

- detikFinance
Selasa, 05 Agu 2008 18:34 WIB
Perbankan Belum Lirik Industri Kreatif
Jakarta - Pengembangan industri kreatif atau ekonomi kreatif belum terlalu banyak dilirik oleh perbankan. Selama ini industri kreatif masih dianggap sebagai industri yang penuh risiko.

Hal ini dikatakan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di gedung Departemen Perdagangan (Depdag), Jakarta, Selasa (5/8/2008).

Beberapa tahun ini pemerintah tengah menggalakan pengembangan industri kreatif seperti seni musik, desain, animasi, program software dan lain-lain. Namun aspek permodalan masih mengganjal sektor yang berpotensi berkembang di masa depan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu yang menjadi pilar ekonomi kreatif adalah masalah modal, kami akan ada MoU dengan BNI 46 untuk mengembangkan ekonomi kreatif," ungkap Mari.

Untuk itu, ia mengharapkan bank-bank lain bisa segera mengikuti langkah BNI untuk melirik Industri kreatif yang sangat berprospek.

"Dimana-mana di dunia ekonomi kreatif belum  terlalu dikenal oleh perbankan, kalau di BI mungkin belum ada tuh ekonomi kreatif," tuturnya.

Untuk mendukung aspek kepercayaan bank terhadap industri kreatif pemerintah dalam cetak biru ekonomi kreatif mencanangkan tahap penguatan  industri kreatif yang dilakukan pada tahun 2008 sampai 2015 diantaranya, mendukung pengembangan teknologi, sumber daya manusia, permodalan dan aspek penghargaan Hak kekayaan intelektual.

"Pada periode ini kita harapkan bisa muncul  200 brand lokal yang terpercaya," katanya.

Diakuinya hingga kini kota yang mengembangkan industri kreatif masih terbatas di Bandung, Bali dan  Jogjakarta, Untuk selanjutnya pemerintah berencana terus mengembangkan kota-kota lainnya.

"Perkembangannya kota ini memang natural, daerah yang akan kita kembangkan menjadi dua kali lipat yang sekarang 3 menjadi 6 misalnya," ujarnya.

Berkembangnya industri kreatif di tanah air menurut Mari, bisa dilihat dari tingkat konsumsi musik Indonesia yang hampir 80% adalah  produksi lokal, bahkan dapat ditunjukan semakin populernya batik di masyarakat.

"Suatu hal yang menggembirakan, sekarang ini kata ekonomi kreatif mulai baku,  bahkan saya dapat laporan konsumsi film Indonesia sudah 60%, dari waktu lalu yang hanya 40%, sekarang sudah kebalikannya," ungkapnya

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads