"Kita sesuai dengan target yang kita canangkan yaitu Depdag tadinya 14,5%, setelah melihat keadaan dunia kita turunkan menjadi 12% minimal kita harapkan," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di gedung Departemen Perdagangan, Jakarta, Selasa (5/8/2008).
Dikatakan oleh Mari, dengan analisa BPS nilai ekspor non migas mencapai US$ 150 miliar hingga akhir tahun 2008, bila mengacu pada nilai ekspor tahun 2007 yang hanya mencapai US$ 118 miliar artinya harus ada pertumbuhan ekspor hingga 25% pada tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat, bahwa kalau Amerika lebih terpengaruh kurs, ekspor kita ke AS kita tidak terlalu besar misalnya dengan elektronik Malaysia. Kita mendapatkan keuntungan dari berkurangnya mereka mengambil dari China, jadi terjadi pemindahan. Kita terjadi peningkatan ekspor garmen dan sepatu, dibanding Ekspor elektronik Malaysia langsung anjlok," paparnya.
Mari mengatakan, walaupun adanya pengurangan permintaan dari AS, pengaruhnya terhadap negara-negara Asia termasuk Indonesia secara umum tidak signifikan, bahkan pertumbuhan ekspor negara-negara di Asia tertinggi di negara-negara lainnya.
"Kalau dilihat dari pertumbuhan, yang tinggi adalah negara Asia, RRT, India itu pertumbuhannya diatas 20% semua. Ekspor kita Brasil hampir 50% seperti karet, pulp and paper, kita melakukan divesrifikasi dari pasar," jelasnya. (hen/qom)











































