"Merpati sekarang ini seperti ibarat orang masuk UGD. Yang dilakukan oleh dokter dua hal: cek darahnya dan kasih pernafasan," jelas Bambang Bhakti Direktur Utama PT Merpati Nusantara di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (7/8/2008).
Bambang menyampaikan hal itu usai menghadiri rapat yang menentukan nasib Merpati. Hadir dalam kesempatan tersebut Menkeu Sri Mulyani, Menhub Jusman Syafii Djamal dan Menneg BUMN Sofyan Djalil. Dalam rapat tersebut disepakati langkah penyelamatan Merpati melalui suntikan Penyertaan Modal Negara Rp 350 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya darah ini peredarannya harus benar dulu sebelum sturuktural dirubah. Nah, artinya apa? Bleeding itu harus dibenahi dulu jangan bleeding terus, kasih tranfusi darah yah bleeding terus kan. Bleeding itu harus stop dulu," jelas Bambang yang baru sehari menjabat sebagai Dirut Merpati ini.
Bambang menyebutkan beberapa hal yang bisa membuat Merpati terus menerus mengalami bleeding, diantaranya adalah pesawat yang boros, rute yang tidak menguntungkan dan pegawai yang berlebihan.
Ia menjelaskan, dalam sebuah best practices, maka rata-rata 1 pesawat memiliki 50 pegawai. Nah di Merpati, 1 pesawat memiliki 100 pegawai.
"Itu karena merpati dulu pernah punya 90 pesawat yang karena krismon turun sampai sekarang tinggal 19. Kita dulu pernah menurunkan (jumlah karyawan) sampai 6.000, awalnya 4.500 kemudian turun 2.600. Sudah ada upaya itu," tambahnya lagi.
Dengan kondisi yang sekarang, Merpati benar-benar sulit untuk memperbarui bahkan memperbaiki pesawat yang dimilikinya. Padahal armada yang sekarang saja sudah sangat minim yakni sekitar 19 unit.
"Ada beberapa yang di-grounded karena memang tidak punya uang untuk memperbaiki. Padahal bisa terbang, cuma mesinnya harus overhaul tapi begitu spare part itu sudah ada dan mau dipasang, harus bayar dulu dan uangnya tidak ada," katanya lagi.
"Kita jangan beli pesawat baru lagi, pokoknya yang ada bisa kita hidupkan kembali," tambahnya.
Terkait 1.300 karyawan yang harus di-PHK, Bambang meminta semua pihak untuk mau berbesar hati menyelamatkan Merpati. Pemerintah sudah berkorban dengan menyuntikkan Rp 350 miliar, dengan Rp 223 miliar untuk karyawan.
"Manajemen harus berbesar hati dengan semua pihak kemudian karyawan harus berbesar hati, bahwa ini jumlahnya kebanyakan. Jadi memang bukan dirumahkan, tapi harus dilakukan pemutusan hubungan kerja yang fair," katanya.
Setelah PHK, jumlah karyawan Merpati nantinya hanya tinggal 850 orang. Rencananya, pilot-pilot dari Merpati akan dialihkan ke Garuda yang kini sedang melakukan ekspansi.
"Dia butuh pilot, flight engineer, membutuhkan maintenance, ini kita punyai stok yang bagus. Tentunya, Garuda mempunyai standar. Garuda yang memilih, silahkan ada
kesepakatan dengan pilot atau kru Merpati," katanya.
Menurut Bambang, nantinya mereka akan dipekerjakan di Garuda dengan sistem business to business.
"Mereka tetap orang Merpati yang ditempatkan ke Garuda dengan system B to B dan sekarang sedang berlangsung," ungkapnya.
Dengan suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 350 miliar itu, maka kondisi Merpati harus bisa sehat dalam 3 bulan. Merpati menargetkan bisa sehat dan untung setelah mendapat suntikan PMN itu.
"Itu bukan target pemerintah, itu target kami sendiri, kalau mau hidup terus yah dalam 3 bulan ini cash flow harus sudah tidak merah lagi," jelasnya lagi.
Terkait kepindahan ke Makassar, menurut Bambang hal itu sedang dipelajari. Namun kemungkinan besar akan dilakukan setelah lebaran.
(qom/qom)











































