Hal tersebut disampaikan Dirjen Anggaran Depkeu Anny Ratnawati dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Dhanapala Depkeu, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (8/8/2008).
"Karena kita tahu harga minyak ini sangat sulit sekali diprediksi, kadangkala turun dan kadangkala naik, karena itu kami menilai angka itu (US$130 per barel) adalah angka yang valid pada saat ini," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Direktur Penyusunan APBN Budiarso Teguh Widodo mengatakan untuk penyusunan RAPBN 2009 ini, yang paling sulit dihadapi adalah penentuan asumsi harga minyak.
"Meskipun saat ini mengalami penurunan tapi harga minyak tetap unpredictable. Tapi Menkeu sementara ini menetapkan US$ 130 per barel," ujarnya.
Meskipun begitu diakuinya risiko terhadap harga minyak ini tetap ada di 2009, dan oleh karena itu pemerintah menetapkan cadangan risiko fiskal dalam penyusunan RAPBN 2009 untuk dapat menahan lonjakan harga minyak hingga US$ 160 per barel.
"Tapi bukan hanya untuk meng-cover harga minyak saja, tapi juga untuk menahan deviasi lifting dan lonjakan konsumsi," ujarnya.
(dnl/ddn)










































