Demikian disampaikan oleh Deputi Menteri Perkekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi dalam acara seminar nasional "Berapakah harga produk unggas yang pantas, yang diselengarakan oleh pusat informasi pemasaran (Pinsar) unggas nasional, di Hotel Santika, Jakarta, Senin (11/8/2008).
"Daging ayam dan telur memberikan 8,4% kontribusi terhadap inflasi Indonesia selama 6 bulan (Januari-Juni)," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, kondisi produk perunggasan Indonesia kian suram setelah mengalami masa puncak pada tahun 2002 tumbuh cukup baik yaitu 11%. Kondisinya melorot setelah mendapat hantaman kasus flu burung pada tahun 2003 dan diperparah oleh kendala faktor daya beli yang rendah karena tingginya harga pakan ternak, seperti jagung, kedelai dan lain-lain.
Pada prinsipnya, kata Bayu, pemerintah ingin masyarakat bisa meningkatkan konsumi produk unggas daging dan telur lebih banyak karena menyangkut soal gizi sebagai investasi jangka panjang. Namun disisi lain, lanjut Bayu, pemerintah belum mampu memberikan subsidi ke bidang ini karena lebih banyak mengalokasikan ke sektor bahan bakar minyak (BBM).
"Kenyataannya adalah 60% konsumsi protein masih datang dari produk unggas, selebihnya ikan. Bangsa Indonesia terlalu banyak makan karbohidrat, daya beli ayam dan telur harus ditingkatkan," harapnya.
Konsumsi telur masyarakat Indonesia masih kurang dari 70 butir per tahun, konsumsi perkapita daging ayam kurang 5 sampai 7 kg per tahun dan untuk ikan 8 sampai 10 kg per tahun, Untuk konsumsi karbohidrat 130 kg per tahun kelompok usia produktif.
Hingga kini harga telur ayam rata-rata Rp 14 ribu per kg dan daging ayam Rp 20.000 sampai Rp 25.000.
(hen/qom)











































