"Dulu kalo dirjen, rumahnya paling tidak di menteng, kebayoran atau bintaro. Tapi sekarang, untuk dirjen yang benar, Bekasi lah," guyon Wakil Presiden Jusuf Kalla disambut tawa hadirin.
Ia menyampaikan hal itu didepan para peserta Rapat Kerja Departemen Perdagangan di Gedung 2, Sekretariat Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (11/08/2008).
Kalla pun berkisah panjang lebar tentang kasus korupsi yang kini semakin marak. Kalla menampik jika disebut sekarang ini korupsi makin banyak. Menurutnya, kasus korupsi terkesan marak karna aksi berantas korupsi yang kian meningkat.
"Kenapa orang korupsi ini semakin hebat, karena banyak orang ditangkap. Kalau banyak ditangkap, berarti (korupsi) turun," ucap Jusuf Kalla
Kalla memuji banyaknya aksi dan upaya untuk memberantas korupsi. "Aksi aksi untuk memberantas korupsi yang marak. Dulu, mana ada itu rekaman-rekaman masuk pengadilan. Sampai-sampai malu saya," ucap Kalla sambil tersenyum.
Ia pun mengibaratkan korupsi dengan penyakit panu. Menurut Kalla, jika seluruh tubuh kena panu, maka yang terjadi justru panu itu tidak akan keliatan. "Sekarang buka baju, jadi keliatan. Itupun panunya tinggal sedikit," begitu perumpamaan Kalla.
Lebih lanjut, Kalla mengatakan bahwa formula pemberantasan korupsi jaman dulu sangat berbeda dengan jaman sekarang. "Sekarang semakin lebar. Dulu korupsi kalau ambil uang negara, sekarang kalau memperkaya orang lain juga korupsi," katanya.
Sama halnya denga kasus Gratifikasi. "Dulu kalau kasi kawin putirnya, hadiah kunci mobil dikasi begini (sambil mengangkat tangannya seakan-akan memegang kunci). Tapi sekarang, pemberian jam tangan saja dipermasalahkan," pungkas Kalla.
(gun/qom)










































