Penurunan nilai ekspor produk sawit diperkirakan terjadi karena turunnya harga produk kelapa sawit khususnya pada semester II-2008. Pemerintah akan mencoba mengatasinya dengan terus menggenjot volume ekspor termasuk ke pasar-pasar potensial lainnya di negara-negara seperti Pakistan.
Demikian dikatakan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu usai Rapat Kerja Departemen Perdagangan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (11/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Mari selama ini produk kelapa sawit sangat terpengaruh naik-turunnya harga minyak mentah dunia. Selain sawit, produk yang mengikuti lonjakan minyak adalah karet namun untuk karet. Namun untuk karet Mari memperkirakan tidak akan terpengaruh penurunan harga minyak.
"Jadi seperti karet memang pertumbuhan ekspor karet tinggi sekitarr 38%, tapi menurut saya karet tidak akan terlalu turun harganya, juga kelapa sawit yang turun US$ 800 per ton dari US$ 1100 per ton," jelasnya.
Menurut Mari cari yang paling bisa dilakukan adalah melakukan peningkatan volume ekspor produk kelapa sawit. Ia sangat optimis pertumbuhan ekspor non migas tahun ini akan sesuai dengan target, yaitu berkisar diantara 12% sampai 14%.
"Jadi kami tetap optimis pertumbuhan ekspor minimal 12% sampai 14% minimal. Semoga dengan realisasi investasi di berbagai bidang, dan relokasi dari ekspor baru ini dari asosiasi sepatu mereka sudah melaporkan dari relokasi ekspor sepatu, semoga ini terus berkembang," harap Mari
Namun ia menggaris bawahi yang terpenting dari itu semua adalah masalah iklim investasi yang baik dan upaya mengurangi hambatan infrastruktur terhadap industri dan ekspor. Termasuk suplai listrik, jalan yang lancar pelabuhan yang tidak macet dan lain-lain. (hen/ir)










































