Mentan: Jangan Takut Perang Dagang Dengan Uni Eropa

Mentan: Jangan Takut Perang Dagang Dengan Uni Eropa

- detikFinance
Senin, 11 Agu 2008 21:54 WIB
Mentan: Jangan Takut Perang Dagang Dengan Uni Eropa
Jakarta - Produk kelapa sawit Indonesia termasuk crude palm oil (CPO) selama ini sulit masuk ke pasar Uni Eropa dengan alasan standar kualitas, masalah lingkungan dan lain-lain.

Indonesia diharapkan jangan berkecil hati dengan trik perang dagang yang dilancarkan Uni Eropa itu. Sebaliknya, Indonesia harus bisa memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengembangkan produk turunan CPO seperti biodiesel.

Hal ini dikatakan  oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam acara Rapat Kerja Departemen Perdagangan (Depdag) di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (11/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan takut perang dagang dengan Uni Eropa," seru Anton.

Menurut Anton, tindakan Uni Eropa (UE) hanya bagian dari politik dagang mereka, sehingga Indonesia harus melakukan tindakan tepat, diantaranya tidak memaksakan untuk masuk ke pasar UE. Apalagi  sekarang ini kebutuhan produk olahan CPO termasuk biodiesel masih sangat tinggi di pasar dalam negeri dengan trend harga CPO terus mengalami  penurunan.

"Kita harus memaikan peran agar harganya stabil salah satu yang diambil adalah gunakan CPO untuk biodiesel. Kalau Eropa menghambat perdagangan CPO kita ya kita pakai buat biodiesel saja, kita juga butuh," ucapnya.

Anton mengatakan, produk CPO Indonesia ditargetkan pada tahun 2009 mencapai 19,44 juta ton atau mengalami kenaikan drastis dari produksi tahun 2008 yang diperkirakan hanya 17 juta ton.

"Sekarang ini 17 juta ton yang tadinya masih muda-muda sekarang berbuah, perluasana kita jalan terus sekarang ini kita kerepotan menyediakan bibitnya," jelas Anton.

Optimisme pencapaian target tersebut, lanjut Anton, didukung oleh adanya peluasan lahan  sejak tahun 2007 yang memberikan tambahan lahan 1,9 juta hektar. "Ada tambahan 500  ribu hektar per tahun," rincinya.

Selain produk CPO yang ditaksir meningkat, produk padi pada 2009 diprediksi juga bakal naik mencapai 63-64 juta ton padi atau setara dengan 40 juta ton beras.
 
"Insya Allah kita sudah bisa ekspor, kita atur ekspornya jangan besar-besar dulu," harapnya.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads