Indonesia menginginkan adanya kerjasama dalam bentuk joint venture atau investasi langsung dibidang produk susu dan turunan. Sehingga diharapkan kedepannya Indonesia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri untuk produk susu daging tanpa harus bergantung dengan Selandia Baru.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam acara konferensi pers di gedung Departemen Pertanian, di Jakarta, Rabu (13/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia belum setuju sebelum ada kompensasinya, yang ditawarkan New Zealand mereka menginginkan dibebaskan, mereka hanya capacity building, itu yang menyebabkan Indonesia belum menerima," kata Anton.
Anton mengatakan bahwa, kalau cuma tawaran capacity building bukan hanya pemerintah yang keberatan namun kalangan pengusaha pun ikut keberatan.
"Capacity building dalam kerangka investasi, mereka mencontohkan keberhasilan mereka di Chili sehingga mampu berkembang dan mengekspor," jelas Anton.
Sehingga dalam pertemuan ini, lanjut Anton, belum menghasilkan kesepakatan bersama perlu dibicarakan kembali pada pertemuan mendatang. "Belum ada kesepakatan masih dalam tahap saling memahami belum ada komitmen investasi hanya capacity buliding," tambahnya.
Sementara itu Menteri Kehutanan dan Pertanian New Zealand Hon Jim Anderton dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa tawaran capacity buliding dalam rangka FTA produk susu dan daging telah dilakukan oleh Selandia Baru ke beberapa negara Amerika Latin seperti Chili yang menunjukan tanda-tanda positif karena mampu memenuhi kebutuhannya dan mampu mengekspor ke luar negeri.
Ia menambahkan dengan konsep capacity building ini, Selandia Baru bisa berbagi pengetahuan dan teknologi dibidang produk susu dan turunannya.
"Kerjasama semacam ini telah berhasil di Amerika Utara dan Selatan, dengan transfer teknologi kami tidak ada masalah dengan pemenuhuan sendiri (Indonesia), di Zew Zealand dan Australia akan tumbuh," ujarnya beralasan.
Ia mengharapkan dengan kerjasama ini bisa menjadi solusi saling menguntungkan. "Kerjasama ini harus win-win solution, menguntungkan bagi Indonesia dan New Zealand," tambahnya. (hen/ir)











































