"Pada kenyataannya, 50% ekonomi dunia masih dikendalikan oleh Amerika Serikat dan Eropa, sehingga cukup sulit bagi emerging market seperti Asia menjadi penyelamat ekonomi dunia dengan segera," ujar Kepala Ekonom Deutsche Bank Group, Norbert Walter.
Demikian disampaikan dalam paparan di hotel Intercontinnental, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (13/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami melihat beberapa pandangan yang beranggapan bahwa pemulihan ekonomi dunia dapat diwujudkan dalam waktu cepat agak kurang realistis," ujar Walter.
Walter menambahkan, meski emerging market seperti Asia saat ini sedang bangkit, namun kekuatannya belum cukup untuk mendrive pemulihan ekonomi dunia dalam waktu cepat.
"Oleh sebab itu butuh waktu bagi Asia untuk berkembang hingga dapat mendrive pemulihan ekonomi dunia," jelas Walter.
Menurut Walter, paling cepat pemulihan bisa dilakukan pada 2010. Bahkan diperkirakan bisa lebih mundur lagi, jika terjadi berbagai perubahan kondisi ekonomi yang dapat mempengaruhi perkembangan emerging market.
"Namun kami melihat emerging market seperti Cina dapat dijadikan penopang pemulihan ekonomi dunia. Sebab Cina yang sedang berkembang akan membutuhkan investasi besar di sektor infrastruktur," urai Walter.
Bagi negara-negara emerging market lainnya, sektor komoditas dapat dijadikan penopang bagi ekonominya masing-masing.
"Jepang dan Korea misalnya. Mereka cenderung mengarah pada pengembangan energi terbarukan. Untuk negara-negara seperti Indonesia, Brasil dan sebagainya cenderung mengarah pada komoditas perkebunan dan pertambangan," ujar Walter.
Meski demikian, sebagaimana dikatakan Walter di atas, emerging market membutuhkan waktu untuk dapat mendorong pemulihan ekonomi dunia, paling cepat di 2010.
(dro/qom)











































