Penjualan Ritel Naik 19,8% Semester I-2008

Penjualan Ritel Naik 19,8% Semester I-2008

- detikFinance
Kamis, 14 Agu 2008 12:31 WIB
Penjualan Ritel Naik 19,8% Semester I-2008
Bali - Penjualan barang-barang ritel pada semester I tetap mencatat pertumbuhan hingga 19,8%. Angka ini cukup tinggi mengingat adanya kenaikan harga BBM hampir 30% akhir Mei lalu.

Demikian Survei Trend Belanja AC Nielsen semester I-2008 yang dipaparkan di Hotel Sanur Paradise, Bali, Kamis (14/8/2008) oleh Senior Manager AC Nielsen Indonesia Febby Ramaun.

Pertumbuhan penjualan juga tetap terjadi di tengah kenaikan harga makanan. Misalnya harga minyak goreng bermerek yang naik rata-rata 50%, mie instan naik rata-rata 30% dan susu bubuk naik kira-kira 20%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk pola belanja konsumen Indonesia di tahun 2008 rata-rata belanja di 4 channel dalam sebulan seperti ke hipermarket 2 kali dalam sebulan, supermarket 3 kali, minimarket 7 kali. Tahun 2007, konsumen belanja ke minimarket 5 kali sebulan. Konsumen juga ke toko tradisional 26 kali sebulan, ke pasar basah 13 kali dan gerobak sayur 23 kali naik dari 19 kali.

Survei itu menyebutkan, dominasi kunjungan ke toko tradisional dan pasar basah masih tinggi yakni dari 100% pengunjung toko modern 97 persennya pergi ke toko tradisional dan 75 persennya juga ke pasar basah dalam tiap bulannya.

Bertambahnya jumlah toko tradisional di segala pelosok membuat pangsa pasar di bagian ini makin dekat dengan konsumen dan masih menjadi favorit untuk membeli produk ritel snack, biskuit dan shampo. Bahkan untuk produk segar seperti daging, sayur dan ikan, konsumen masih memilih untuk pergi ke pasar basah.

Kenaikan Harga Pangan


Untuk kenaikan harga pangan, berdasarkan hasil riset tersebut berdampak keras pada konsumen kelas bawah. Masyarakat kelas bawah pun sudah mulai mengubah merek dari merek atas ke bawah, bahkan tak mempedulikan merek lagi karena pendapatan mereka yang tetap. Mereka mangganti produk ke yang lebih murah, mengurangi jatah makan, jajan dan rokok.

Kelompok ini juga memilih mengganti lauk dengan mie instan dan telor. Selain itu juga mengurangi menonton televisi, dan kurangi jajanan. Namun mereka tetap mempertahankan kualitas susu bayi.

Sedangkan untuk kelas menengah, dampaknya masih relatif sedikit. Dengan adanya kenaikan harga pangan, mereka pun mengganti produk yang tidak berhubungan dengan dirinya dengan produk yang lebih murah. Sementara produk yang berhubungan dengan dirinya seperti kosmetika, sabun mandi masih dipertahankan, hanya saja konsumsinya dikurangi.

Untuk kelas atas, tidak masalah namun mereka masih berupaya untuk mempertahankan gaya hidup. Mereka hanya mengurangi konsumsi barang-barang sekunder seperti cafe, bioskop, rekreasi.

Tren yang kini marak berdasarkan survei tersebut adalah mereka condong untuk membeli barang-barang dalam kemasan sachet untuk menyesuaikan isi kantong dalam sehari.

Sebagai catatan, pengeluaran konsumen kelas atas Rp 1,3 juta per bulan, kelas menengah Rp 1 juta, kelas bawah Rp 800 ribu.

Belanja Iklan


Terkait belanja iklan semester I-2008, Nielsen mencatat kenaikan 24% dibanding semester I-007. Total belanja iklan di semester I-2008 mencapai Rp 19,6 triliun naik dibandingkan tahun 2007 15,8 triliun.

Yang menempati peringkat pertama produk telekomunikasi sekitar Rp 1,9 triliun, otomotif Rp 850 miliar. Belanja iklan di koran pertumbuhannya paling tinggi sekitar 38%, majalah dan tabloid 24%, televisi 17%.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads