Selain alasan harus membagi plafon dana yang disiapkan untuk pabrik TPT, restrukturisasi pabrik gula juga akan menyangkut departemen lain seperti Menneg BUMN dan Departemen Pertanian.
Demikian disampaikan oleh Direktur Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Ditjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Aryanto Sagala disela-sela acara Konferensi Nasional Industri Tekstil dan Garmen Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (14/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena ini masih dalam wacana, maka menurut Aryanto, untuk kelanjutannya perlu dibicarakan oleh departemen lainnya terutama menyangkut dengan pabrik gula. Dan tidak tertutup kemungkinan terjadi tumpang tindi wewenang dalam masalah ini.
"Gula itu kan lebih pada di Departemen Pertanian, pabriknya yang punta BUMN, tapi pihak Menkeu bilang kalau ini kan hanya mesin-mesinnya saja bukan perkebunananya," jelasnya.
Namun jika memang rencana ini akhirnya disepakati, Depperin akan mengajukan tambahan plafon untuk program restrukturisasi mesin dari DIPA 2009 yang disiapkan sebesar Rp 360 miliar. Untuk sementara berdasarkan hitungan Depperin setidaknya dari Rp 360 miliar itu perlu ada komposisi Rp 200 miliar untuk TPT dan Rp 160 miliar untuk gula.
"Pak menteri bilang, kalau begitu harus ada tambahan plafon dong," serunya.
Ia memperkirakan dana restrukturisasi Rp 160 miliar itu jadi dialokasi untuk gula, tidak akan terlalu signifikan untuk pembelian mesin-mesin pabrik gula, mengingat harga mesin-mesinnya sangat mahal hingga triliunan rupiah.
Namun ia mengharapkan komposisi rata-rata per perusahaan yang mendapatkan bantuan untuk TPT rata-rata bisa mencapai Rp 5 miliar, sedangkan untuk gula Rp 10 miliar.
"Sekarang masih ada pembicaraan dengan Deptan dan Meneg BUMN, saya rasa hal ini tidak akan menghambat restruktirisasi TPT, karena tidak setiap tahun pabrik gula akan beli mesin baru," jelasnya.
(hen/qom)











































