Kerugian ini disebabkan karena adanya selisih harga bahan baku yang tinggi. Apalagi jika pembelian bahan baku dilakukan saat harga minyak tinggi di US$ 147 per barel, sementara kini sudah turun di kisaran US$ 115 per barel.
Hal ini dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat disela-sela acara Konferensi Nasional Industri Tekstil dan Garmen Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (14/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ade menambahkan, hinggi kini potensi kerugian bagi industri pembuat bahan polyster belum bisa diketahui. Namun ia sangat yakin pembelian selisih harga bahan baku yang sangat jauh dari harga sekarang menyebabkan produsen polyster akan bingung menjualnya kepada konsumen.
"Sekarang ini di industri TPT, pembuat serat polyster ada 24 sampai 26 perusahaan," imbuhnya.
Selain tergerus oleh adanya penurunan harga minyak, industri TPT juga dihadapkan oleh beberapa masalah klasik seperti akses kredit bank yang belum sepenuhnya dipercaya oleh dunia perbankan.
Hal ini dikatakan Ade, karena kalangan perbankan melihat adanya kondisi yang masih fluktuatif khususnya bagi industri TPT untuk suplai energi.
"Padahal industri TPT sudah jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu," ujarnya beralasan.
Selain itu, dengan kondisi tadi industri TPT terpaksa harus melakukan investasi tambahan untuk membeli genset sebagai antisipasi suplai energi listrik yang tidak stabli.
"Cost investasi menggelombung semakin besar. Memang harga PLN masih kompoteitif dibandingkan dengan genset atau power plant gas," ucapnya.
(hen/qom)











































