Harga Minyak Turun, Industri Polyster Rugi

Harga Minyak Turun, Industri Polyster Rugi

- detikFinance
Kamis, 14 Agu 2008 15:09 WIB
Harga Minyak Turun, Industri Polyster Rugi
Jakarta - Penurunan harga minyak yang sempat menyentuh US$ 112 per barel bisa merugikan industri pembuat polyster terutama untuk sektor tekstil (tekstil dan produk tekstil/TPT).

Kerugian ini disebabkan karena adanya selisih harga bahan baku yang tinggi. Apalagi jika pembelian bahan baku dilakukan saat harga minyak tinggi di US$ 147 per barel, sementara kini sudah turun di kisaran US$ 115 per barel.

Hal ini dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat disela-sela acara  Konferensi Nasional Industri Tekstil dan Garmen Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (14/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selisihya dengan harga sekarang (minyak mentah) hampir US$ 30 per barel, sebelumnya harga  minyak US$ 145 adanya  potential loss belum dipakai untuk dijual, ternyata  sudah turun," jelas Ade.

Ade menambahkan, hinggi kini potensi kerugian bagi industri pembuat bahan polyster belum bisa diketahui. Namun ia sangat yakin pembelian selisih harga bahan baku yang sangat jauh dari harga sekarang  menyebabkan produsen polyster  akan bingung menjualnya kepada konsumen.

"Sekarang ini di industri TPT, pembuat serat polyster ada 24 sampai 26 perusahaan," imbuhnya.

Selain tergerus oleh adanya penurunan harga minyak, industri TPT juga dihadapkan oleh beberapa masalah klasik seperti akses kredit bank yang belum sepenuhnya dipercaya oleh dunia perbankan.

Hal ini dikatakan Ade, karena kalangan perbankan melihat adanya  kondisi  yang masih fluktuatif khususnya bagi industri TPT  untuk suplai energi.

"Padahal  industri TPT sudah jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu," ujarnya beralasan.

Selain itu, dengan kondisi tadi industri TPT terpaksa harus melakukan investasi tambahan untuk membeli genset sebagai antisipasi suplai energi listrik yang tidak stabli.

"Cost investasi menggelombung semakin besar. Memang harga PLN masih kompoteitif  dibandingkan dengan genset atau power plant gas," ucapnya.



(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads