Meski begitu, jumlah minyak tanah yang sudah ditarik mencapai 1,06 juta kiloliter atau sekitar 53% dari target 2,01 juta kiloliter. Sementara konsumsi elpiji baru sebanyak 224 ribu matrik ton dari target 1,2 juta matrik ton atau baru sekitar 19%.
Menurut Dirut Pertamina Ari Soemarno, realisasi pembagian konversi dan elpiji yang lebih rendah dari minyak tanah yang ditarik justru mengindikasikan bahwa ada sejumlah minyak tanah yang selama ini disalahgunakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kami membagikan paket konversi hanya kepada yang terdata, yaitu masyarakat yang memang berhak menerima subsidi. Dengan begitu artinya selama ini ada sejumlah minyak tanah subsidi yang bukan digunakan oleh masyarakat tersebut. Bisa saja digunakan industri atau penyelewengan lainnya," ujarnya disela kunjungan ke Depo Plumpang, Jakarta, Kamis (14/8/2008).
Sementara Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal mengakui, progres program konversi hingga saat ini masih terhambat karena masalah infrastruktur seperti tabung dan stasiun pengisi bahan bakar elpiji (SPBE).
Untuk masalah tabung, tahun ini Pertamina membutuhkan sekitar 40 juta tabung elpiji 3 kg. Sebagai salah satu cara untuk memenuhinya Pertamina pun diberikan hak untuk impor 6 juta tabung tahun ini.
Hingga saat ini, Pertamina telah mengimpor 900 ribu tabung dari China. Selanjutnya Pertamina berencana mengimpor 1 juta tabung lagi dari China, 600 ribu dari Malaysia, dan 1 juta tabung lainnya dari Thailand.
(lih/qom)










































