Hal tersebut disampaikan Presiden SBY saat menyampaikan RAPBN 2009 dan nota keuangannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2008).
"2008 ini adalah tahun yang sulit dan sarat tantangan harga minyak dunia mencapai titik tertinggi dalam sejarah, harga pangan di berbagai penjuru dunia melonjak drastis, ekonomi dunia terancam resesi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan harga minyak dan pangan yang sangat tinggi dengan cepat berdampak melambungnya subsidi energi dan pangan dalam anggaran kita, pemerintah akan terus berusaha untuk menekan dampak negatifnya bagi masyarakat," ujarnya.
Beban subsidi akibat kenaikan harga komoditas itu terus meningkat. Masalah yang dihadapi sungguh tidak ringan. Tetapi malahan subsidi jatuh ke tangan yang tidak layak.
"Beban subsisi minyak dan listrik akan naik 3 kali lipat sampai akhir tahun dibanding anggaran subsidi energi pada APBN 2008 dan kita tidak bisa memungkiri bahwa subsdi energi ini lebih banyak dinikmati oleh mereka yang memiliki mobil dan mereka yang memiliki rumah dengan daya listrik yang besar," ujarnya.
Dana subsidi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu jutaan rakyat yang masih miskin yang jauh lebih membutuhkan bantuan dari pemerintah. (ddn/ir)











































