Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembacaan Nota Keuangan dan RAPBN 2009 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/008).
"Sebagai basis perhitungan RAPBN 2009, dengan mempertimbangkan situasi ekonomi global dan domestik, pemerintah telah menyusun asumsi indikator ekonomi makro," jelas Presiden.
Berikut asumsi RAPBN 2009:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Pertumbuhan ekonomi sekitar 6,2%
- Inflasi 6,5%
- Nilai tukar rupiah rata-rata 9.100 per dolar AS
- SBI 3 bulan 8,5%
- Lifting minyak 950.000 barel per hari.
Pemerintah dan DPR sebelumnya menyepakati asumsi dasar RAPBN 2009 antara lain:
- PDB sebesar Rp 5.200-5.300 triliun
- Inflasi 5,8% - 6,5%
- Nilai tukar rupiah 9.000-9.200 per dolar AS
- SBI 3 bulan 7,5% -8,5%
- Lifting minyak 927.000-950.000 barel per hari
- Minyak Mentah Indonesia (ICP) US$ 95-120 per barel
- Defisit 1,5% - 2%.
Presiden menjelaskan, harga minyak dunia masih mengalami pergolakan dan sangat sulit untuk diprediksi. Selama semester I-2008, harga minyak melonjak 40% mencapai US$ 147 per barel. Namun pada bulan Juli dan awal Agustus merosot hingga 20% di bawah US$ 115 per barel.
"Karena itu pemerintah mengusulkan asumsi harga minyak mentah di tahun 2009 sebesar US$ 100 per barel, masih dalam cakupan yang disepakati dengan DPR yaitu US$ 95-120 per barel," ujarnya.
Pilihan harga minyak US$ 100 pada tahun 2009, lanjut presiden, mencerminkan perkembangan terakhir harga minyak dunia.
"Meskipun demikian, pemerintah memandang perlu untuk tetap menjaga APBN dari risiko gejolak harga minyak. Karena itu, tingkat harga minyak itu juga akan disertai penutupan risiko harga minyak ke atas pada tingkat US$ 130 per barel. Hal ini disebabkan karena APBN kita jauh lebih rawan terhadap tekanan harga minyak," katanya. (qom/ir)











































