"Dengan demikian suatu saat kita dapat bangga menyampaikan ke generasi pengurus anak cucu kita bahwa kita mewariskan negara dengan kekayaan yang makin meningkat, kemakmuran yang merata atau utang yang makin kecil atau bahkan tidak ada," kata SBY.
Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membacakan RAPBN 2009 dan nota keuangannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang kita lakukan lebih besar dari jumlah utang luar negeri baru," katanya.
Hal ini, lanjut SBY, sesuai dengan tujuan untuk terus mengurangi porsi utang luar negeri dalam pembiayaan defisit. Sumber dari dalam negeri berasal dari penerbitan surat berharga negara termasuk surat berharga syariah.
Hal ini akan memberikan komitmen pengembangan surat berharga berdasarkan prinsip syariah. Dengan kebutuhan pembiayaan tersebut, maka rasio utang pemerintah terhadap PDB dalam tahun 2009 diperkirakan akan menurun dari sekitar 54% tahun 2004 menjadi 30% tahun 2009.
"Tingkat rasio utang ini membuktikan tekad yang kita canangkan bahwa Indonesia harus bisa dibangun dengan semaksimal mungkin dengan menggunakan sumber daya kita sendiri," jelas SBY.
(ir/ddn)










































