Asumsi Minyak Terlalu Optimistis

Asumsi Minyak Terlalu Optimistis

- detikFinance
Jumat, 15 Agu 2008 14:29 WIB
Asumsi Minyak Terlalu Optimistis
Jakarta - Kalangan pengusaha menilai keputusan pemerintah menggunakan acuan harga minyak di RAPBN 2009 sebesar US$ 100 per barel terlalu optimistis.

Ketua Kadin MS Hidayat menyatakannya disela pidato kenegaraan Presiden di depan Sidang Paripurna di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (15/8/2008).

Menurut Hidayat, acuan harga minyak tersebut terlalu optimis mengingat fluktuasi yang bisa terjadi terlalu tajam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penggunaan harga minyak US$ 100 dolar agak terlalu optimis. karena fluktuasi harga dunia kan unpredictable," ujarnya.

Menurutnya, asumsi harga minyak yang digunakan pemerintah seharusnya tidak kurang
dari kisaran US$ 102 per barel.

Meski begitu, secara keseluruhan ia menilai RAPBN 2009 yang disusun pemerintah sudah cukup realistis. Meskipun ia menyayangkan alokasi dana infrastruktur yang masih sekitar 3%, namun ia memaklumi karena adanya desakan untuk meningkatkan dana
pendidikan.

Ia berharap, pemerintah benar-benar merealisasikan reformasi birokrasi sehingga bisa memangkas pungutan-pungutan liar di proses birokrasi selama ini.Pungutan-pungutan liar tersebut memang menjadi beban bagi pengusaha yang membuat high cost sampai 15%.

"Semoga pemerintah benar-benar sesuai janjinya untuk reformasi birokrasi. Dengan remunerasi itu, harusnya tidak ada lagi pungli-pungli," katanya.

Demikian juga di perpajakan. Jika pungutan liar dihapuskan, Hidayat percaya pembayaran pajak justru akan lebih tinggi.

Ketua DPR Agung Laksono di tempat yang sama meminta peningkatan target penerimaan perpajakan di tahun 2009 sebesar Rp 726,3 triliun benar-benar terjadi.

"Peningkatan perpajakan yang cukup drastis di atas Rp 720 triliun saya berharap sektor pajak ni betul-betul tercapai karena kita tergantung pada itu," ujarnya.
(lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads