Hal ini dilakukan sebagai bagian strategi perusahaan untuk menyiasati permintaan baja dunia dan trend permintaan pasar domestik sebelum hari raya.
"Kami bersepakat Essar, Krakatau Steel, Gunung Garuda akan beroperasi secara normal tidak akan menurunkan kapasitas produksi, kita akan meningkatkan komposisi ekspor," kata Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan K Hakim dalam acara konferensi pers di Gedung Wisma Krakatau Steel, Jalan Gatot Soebroto, Rabu (20/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk Gunung Garuda akan menaikkan komposisi ekspornya hingga 50% dari sebelumnya 40%, untuk Essar akan menaikan komposisi ekspor dari 20% menjadi 40%.
"Kita mau memberikan sentimen positif pasar di luar negeri, ditambah lagi periode lebaran. Mengenai spot market, kita perbesar pada porsi jual bagi yang selama ini kita suplai. Kalau spot market ada, ya kita akan jual ke spot market," jelas Irvan.
Irvan menambahkan selain memberikan kondisi yang positif bagi pasar baja dunia, langkah ini bisa menjadi penangkal anggapan dari pasar baja domestik agar tidak ada persepsi yang berlebihan terhadap pasokan baja dalam negeri sehingga tidak ada kesan kelebihan suplai.
"Periode minggu ketiga Oktober, kelender time kita akan kembali ke domestik lagi," ungkapnya.
Ia mencontohkan untuk Essar volume ekspor selama ini 5000 ton akan menjadi 9.000 ton per bulan, ekspor produk baja produksi Essar diantaranya Afrika, Timur Tengah dan ASEAN.
Untuk Gunung Garuda dari ekspor 35.000 ton menjadi 40.000 ton per bulan. Selama ini Gunung Garuda memproduksi produk plat baja sebanyak 700.000 ton per tahun dan long produk baja 500.000 ton per tahun.
Pasar ekspor produk Gunung Garuda diantaranya di ASEAN, Timur Tengah, Australia, Vietnam, Srilangka.
Produk Krakatau Steel akan ditingkatkan ekspornya dari 10.000 ton menjadi 20.000 ton per bulan. Krakatau Steel selama ini memproduksi HRC sebanyak 2 juta per tahun, CRC 850.000 ton, wire rod 450.000 ton, besi beton 300.000 ton, pipa baja 200.000 ton.
Pasar ekspor Krakatau Steel antaralain ASEAN, Jepang, Australia, Kanada, Timur Tengah, Eropa selatan Spanyol dan Italia.
"Demand kebutuhan baja 7 juta per tahun, impor itu 40% dari kebutuhan nasional, 60% suplai domestik 4,5 juta ton dari dalam negeri," imbuhnya.
(hen/ddn)











































