Hal ini dikatakan oleh Direktur Jenderal Industri Logam Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari dalam acara konferensi pers di Gedung Departemen Perindustrian (Depperin) Jumat (22/8/2008).
"Kunci utamanya adalah buyer barunya, dia harus dapat sebelum Januari kalau nggak tenaga kerjanya menganggur, ini yang belum ada kepastian," ujar Ansari kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau (PT Prima) optimis bahwa kondisi persepatuan Indonesia sekarang ini bagus, kelihatannya ia optimis," tambahnya.
Ansari mengatakan bahwa iklim usaha persepatuan di Indonesia sangat meyakinkan, sehingga tidak mengherankan kalau calon-calon buyer baru bakal berdatangan ke Indonesia termasuk memesan dari PT Prima.
Ia menambahkan iklim usaha persepatuan di Vietnam dan China yang selama menjadi pemain terbesar didunia persepatuan di dunia sedang tidak kondusif sehingga banyak buyer asing lebih melirik Indonesia. "China kena anti dumping, Vietnam kena juga, belum soal tenaga kerjanya," ujarnya.
Mengenai langkah Adidas selanjutnya, menurut Ansari, pihak Adidas akan mencari mitra kerja lainnya di luar PT Prima namun masih di wilayah Indonesia. "Rencananya Adidas akan tetap berkomitmen untuk investasi invest di Indonesia," ungkap Ansari.
Selama ini Adidas telah mengorder produk sepatu asal Indonesia sebanyak 6 juta per bulan dari 5 perusahaan mitranya di Indonesia. Pihak PT Prima sendiri hanya memasok 10% dari permintaan Adidas.
Prima Sempat Tampik Perpanjangan Kontrak Adidas
Sementara itu, PT Prima Inreksa Industries sempat menampik perpanjangan kontrak kerjasama order sepatu oleh pihak Adidas, menjelang keputusan penghentian kesepakatan kerjasama per 31 Desember 2008.
Salah satu alasannya dari pihak PT Prima menolak tawaran perpanjangan kontrak karena jumlah order sepatu yang ditawarkan hanya 300 ribu pasang dari Januari sampai Maret 2009, hal ini dinilai tidak menguntungkan secara ekonomis.
"Kalau sebesar itu maka tidak bisa menutup ongkos produksi kami," kata Presiden Direktur PT Prima Inreksa Industries Paulus Harli di tempat yang sama.
Paulus menambahkan bahwa upaya memilih mengakhiri masa kontrak hanya sampai akhir Desember 2008 karena sudah banyak buyer baru yang berminat untuk bekerjasam dengan PT Prima.
"Ada buyer lainnya yang sudah menjajaki melakukan kerjasama jumlahnya 5 sampai 10, negaranya sama dengan Adidas (Jerman) mereka itu merek-merek terkenal di dunia kualitasnya sama dengan Adidas," ungkap Paulus.
Dikatakannya kapasitas produksi PT Prima akan tetap stabil di kisaran 500 ribu pasang sepatu per bulannya.
"Harapan kami ketika ketika kontrak putus akhir Desember kami sudah mendapat buyer baru," harap Paulus.
(hen/ddn)










































