"Kita tidak tahu harus bagaimana lagi melihat krisis listrik di Riau yang terus berkepanjangan. Dalam sepekan ini, jadwal pemadaman bisa 4 kali dalam sehari. Artinya listrik hanya hidup 12 jam. Payah PLN Riau ini," ketus Ahmad Hasein Harahap warga Tampan, Pekanbaru kepada detikFinance, Sabtu (23/8/2008).
Warga juga mengeluhkan jadwal pemadaman yang tidak lagi beraturan. Pihak PLN terkesan sesukanya untuk melakukan pemutusan arus listrik. Padahal biasanya pemadaman dilakukan secara bergilir sesuai dengan jadwal pemadaman di sejumlah media massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Humas PLN Wilayah Riau, Delvis Bustami menyebut, krisis listrik saat ini disebabkan, penurunan debit air di PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar, Riau. Debit air dalam beberapa bulan terakhir ini terus menurun di bawah normal. Malah kondisinya sudah mendekati titik kritis.
Saat ini debit air PLTA Koto Panjang, hanya berada di poisisi 76,7 meter di atas permukaan air laut. Sekitar satu meter lagi, maka kondisi debit air sudah berada di bawah batas normal. Hal itu memaksa tiga turbin di waduk tersebut tidak bisa beroperasi secara maksimal.
"Air di waduk PLTA Koto Panjang benar-benar dalam kondisi kritis. Padahal pembangkit tenaga air itu satu-satunya pemasok utama energi listrik di Riau," kata Delvis.
Delvis menjelaskan, dengan kondisi debit air yang kritis, untuk siang hari hanya dapat memfungsikan satu turbin di PLTA Kota Panjang dengan kapasitas 37 MW. Sedangkan untuk beban puncak atau pada malam hari, tiga turbin dapat difungsikan semuanya.
"Tiga turbin itupun tidak dapat beroperasi secara maksimal," kata Delvis.
(cha/qom)











































