Pemadaman bergilir dalam sepekan ini bisa terjadi 4 kali dalam sehari. Kondisi krisis listrik akan terus belanjut hingga memasuki bulan ramadhan. Maka dapat dipastikan, betapa runyamnya masyarakat dalam menghadapi puasa kali ini.
"Tinggal di ibukota provinsi saja mengalami pemadaman sebanyak 4 kali dalam sehari. Bagaimana lagi nasib masyarakat yang tinggal di kecamatan atau pun kabupaten. Bulan puasa nanti, kita bisa repot kalau terus kondisinya seperti ini," ungkap Syarial seorang warga di Pekanbaru kepada detikFinance, Sabtu (23/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita hanya dapat berharap, diwaktu paling utama, berbuka, makan sahur ataupun salat tarawih PLN tidak melakukan pemadaman. Kalau saat itu juga PLN tetap melakukan pemadaman, saya yakin masyarakat akan bergerak melakukan aksi demo," ketus Arsyad Rahim seorang warga Kulim, Pekanbaru.
Lantas bisakah PLN tidak melakukan pemadaman bergilir di saat bulan puasa? "Sampai bulan puasa kemungkinan krisis listrik belum bisa diatasi sepenuhnya. Jadwal pemadaman akan tetap berlangsung dibulan Ramadan," kata Asisten Manager Distributor PT PLN Wilayah Riau-Kepri Rusdi Karim kepada wartawan di Pekanbaru.
Kendati dibulan puasa tidak bisa terhindari, namun menurut Rudi Karim pihak PLN akan berusaha meminimalisir pemadaman ketika berbuka puasa atau makan sahur. Krisis listrik di Riau semakin parah akibat debit air di waduk PLTA Koto Panjang yang mendekati batas titik kritis.
Dia menjelaskan, selain PLTA Koto Panjang yang mengalami masalah debit air, PLTA di Sumatera Barat (Sumbar) juga mengalami hal yang sama. Dimana selama ini energi listrik untuk kebutuhan di Riau juga dipasok dari PLTA dan PLTU di Sumbar.
Saat ini PLTU Ombilin di Sumbar, tengah mengalami kerusakan, sedangkan PLTA Singkarak dalam kondisi overhaul.
"Krisis listrik di Riau kian parah setelah PLTA Singkarak tidak dapat memasok energi ke Riau. Begitu juga dari PLTU Omblin yang saat ini masih dalam perbaikan," kata Rusdi.
(cha/qom)











































