Menurut Direktur Jawa Madura Bali PLN Murtaqi Syamsudin, beberapa hal yang belum disepakati antara lain mengenai penggunaan genset oleh pengusaha karena dinilai akan menambah beban biaya pengusaha.
Untuk memecahkan masalah itu, rencananya PLN akan bertemu dengan para pengusaha bisnis tersebut hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalihan beban listrik mal, hotel dan perkantoran diperlukan untuk membantu menekan beban listrik yang sebelumnya sudah dilakukan industri.
Pemerintah melalui SKB 5 menteri sebelumnya meminta agar industri mengalihkan sebagian jam kerjanya ke hari libur. Namun dari target penghematan 600 MW, penghematan baru tercapai 180 MW.
"Tapi penghematan sebesar itu masih belum cukup. Makanya PLN berharap mal, hotel dan gedung-gedung perkantoran ikut parisipasi mulai tanggal 25 Agustus ini," katanya.
Kebutuhan menurunkan beban puncak makin mendesak karena menghadapi masa puasa dan lebaran. Pada masa-masa ini biasanya penggunaan listrik masyarakat meningkat. Karenanya peningkatan beban listrik ini diharapkan bisa diimbangi dengan pengalihan beban di sektor bisnis.
"Mengingat beban puncak sistem Jawa Bali menjelang Ramadhan, Lebaran dan akhir tahun biasanya naik terus. Makanya kami berupaya agar pasokan listrik stabil dan pada bulan Ramadhan ini jangan sampai ada pemadaman pada pelanggan umum. Tapi di sisi lain, bagaimana skema penghematan untuk mall, hotel dan gedung kantor juga jangan terlalu memberatkan pengusaha," katanya.
Sekretaris Menneg BUMN M Said Didu mengatakan, rencana PLN untuk 'memaksa' pengusaha mal,hotel dan perkantoran menggunakan genset sebagai salah satu upaya penghematan tidak ada salahnya.
"Tidak ada bunyi kontrak PLN bakal menjamin suplai listrik ada terus, jadi sah-sah saja untuk PLN meminta pelanggan untuk menggunakan genset," ujarnya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. (lih/ddn)











































