Hal itu mengemuka dalam acara 14th Australia-Indonesia Working Group on Agriculture, Food and forestry Cooperation (WGAFFC) yang diadakan di Solo, Selasa (26/8/2008). Dalam pertemuan tersebut kedua negara sepakat memfokuskan pembahasan mengenai penguatan pengamanan kedua negara dari ancaman agro bioterorisme.
Ketua Delegasi Indonesia, Syukur Iwantoro, mengatakan Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah Australia segera melakukan finalisasi persyaratan teknis impor. Sebab persyaratan tersebut mengganjal kelancaran perdagangan terutama impor dari Indonesia ke Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, lanjut Syukur, Indonesia banyak mengambil pelajaran dari Australia terkait antisipasi dan penanganan organisme pengganggu tumbuhan serta hama penyakit hewan sehingga tidak berdampak pada timbulnya wabah penyakit.
Sementara itu Ketua Delegasi Australia, Paul Morris, menyampaikan Pemerintah Australia terbuka bagi peluang investasi di sektor pertanian dan peternakan dari Indonesia. Kedua negara akan terus meningkatkan hubungan kerjasama bilateral terutama bidang pertanian, kehutanan dan karantina yang saling menguntungkan.
"Semua produk yang akan di ekspor oleh Indonesia ke Australia selama memenuhi persyaratan karantina Australia, dapat dipasarkan secara bebas di Australia," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut juga disepakati pengkajian kembali status pelabuhan Indonesia terhadap Giant African Snail (GAS), Australia's Fruifly Free Area, Fumigation Scheme serta market akses bagi produk holtikultura Indonesia ke Australia.
Menurut Syukur Iwantoro pertemuan itu kemungkinan akan dilanjutkan dengan upaya kemitraan antara Indonesia Quarantine Strengthening Program (IQSP) dengan Australian Quarantine and Inspection Service (AQIS).
"Beberapa program kegiatan lewat kemitraan tersebut meliputi analisis risiko hama penyakit hewan dan program kampanye publik mengenai flu burung. Sejumlah daerah akan dijadikan action plan program kemitraan ini. Diantaranya, UPTKarantina Pertanian di Jakarta, Denpasar, Surabaya, Kupang, Entikong, Makasar, Ambon dan Timika," ujarnya.
(mbr/qom)










































