YLKI Ancam Gugat PLN Riau

YLKI Ancam Gugat PLN Riau

- detikFinance
Rabu, 27 Agu 2008 14:23 WIB
YLKI Ancam Gugat PLN Riau
Pekanbaru - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau mengancam akan melakukan gugatan clas actioan terhadap PLN. Ini terkaat janji PLN yang mengklaim tidak akan melakukan pemadaman di bulan ramadan pada waktu berbuka, salat tarawih dan makan sahur.

"Pihak PLN telah berjanji tidak akan melakukan pemadaman waktu makan sahur sampai salat tarawih termasuk juga ketika umat Islam lagi makan sahur. Kalau janji itu ternyata tidak ditepati, maka kami siap melakukan gugatan clas action terhadap PLN Wilayah Riau," kata Direktur YLKI Riau, Sukardi dalam perbincangan dengan detikFinance, Rabu (27/8/2008) di Pekanbaru.

YLKI meminta PLN Wilayah Riau dapat menjalakan komitmennya dalam mengatasi krisis listrik di bulan ramadhan ini. Sebab, di bulan puasa itu, masyarakat akan merasa terganggu bila terjadi pemadaman saat berbuka, salat tarawih dan makan sahur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi PLN kami harapkan tidak hanya umbar janji muluk. Kita lihat saja nanti," kata Sukardi.

Menurut Sukardi, pemadaman bergilir yang dilakukan PLN saat ini, sudah terlewat batas. Satu hari bisa tiga sampai empat kali melakukan pemadaman.. Satu sisi pihak PLN tidak pernah mencari solusi alternatif dalam mengatasi krisis listrik yang sudah berjalan dalam tujuh tahun terakhir di Riau.

"PLN ini perusahaan negara yang tidak pernah merespon tuntutan konsumennya. Alasannya sejak dulu itu-itu saja, namun tidak pernah mereka lakukan perbaikan yang berarti. Kan aneh mereka sudah tahu kelemahannnya, namun tidak pernah memperbaikinya," kata Sukardi.

Pihak YLKI Riau mengaku, dalam tiga bulan terakhir ini pihak sudah menerima keluhan lebih dari 100 ribu pelanggan PLN. Selain mengeluhkan soal pemadaman bergilir, warga juga mengeluhkan banyaknya alat elektronik mereka yang rusak. Ini belum ditambah sejumlah pengusaha kecil yang bangkrut akibat krisis listrik yang berkepanjangan.

"PLN Ini perusahaan negara bermuka badak, tidak pernah merasa bersalah akan pelayanan yang mereka berikan selama ini. Pemadaman dalam tiga bulan terakhir ini, konsumenpun tidak pernah mendapatkan kompensasi dari PLN. Minimalkan biaya beban seharusnya dibebaskan," kata Sukardi.

Dengan pemadaman yang terus berlangsung, kata Sukardi biaya pemakaian konsumen pun semakin meningkat. Ini diakibatkan hidup matinya listrik yang tak tentu arah. Disaat listrik menyala, biayasanya secara otomatis akan menambah biaya pemakaian. Karena penarikan daya listrik usai pemadaman akan lebih besar lagi.

"Warga mengaku belakangan ini rata-rata pembayaran listrik mereka naik antara 10 persen sampai 30 persen dari biasanya. Tapi apa PLN mau tahu akan kondisi itu?. Kalau warga telat membayar, tetap saja mereka membuat denda dan memutus sambungan listrik. Di sini bejatnya PLN," kata Sukardi.

(cha/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads