Sesuai arahan Presiden, Menteri Perekonomian Sri Mulyani akan membentuk tim negosiasi kuat dan Wapres akan melakukan supervisi.
"Bila kita berhasil negosiasi sejak itu tanggung jawab ada di tangan saya sebagai Presiden, saya tidak melempar tanggung jawab kepada Wapres atau tim apabila nanti ada permasalahan. Seperti kemarin, menaikkan BBM yang bertanggung jawab kan saya bukan menteri ekonomi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY mengatakan pihaknya sudah menerima laporan soal kontrak Liquid Natural Gas (LNG) Tangguh. "Memang kalau kita pelajari apabila kontrak ini tidak diperbaharui dengan harga sekarang, maka akan besar sekali kerugian negara dibanding dengan penjualan gas-gas yang lain, seperti di Cepu dan lain-lain," ujarnya.
Meski harga telah diubah pada tahun 2005 tetapi dengan pergerakan harga minyak sekarang yang mencapai kisaran US$ 120-130 per barel harga gas itu menjadi tidak layak lagi.
"Kalau tidak kita perjuangkan, berapa kontrak-kontrak lain akan gagal, ini yang mesti kita perjuangkan, negosiasikan, dengan niat baik itu, agar negara tidak dirugikan, Wapres kemarin sudah ke RRC, dan membuka pintu untuk negoiasai Insya Allah ada celah," ujarnya.
SBY menambahkan kontrak pertambangan akan diperjuangkan apabila memenuhi rasa keadilan. "Tapi jika merusak rasa keadilan tentunya kita berupaya untuk melakukan negosiasi," ujarnya (ddn/ir)











































