Kinerja Ekonomi Belum Ciptakan Lapangan Kerja Memadai

Kinerja Ekonomi Belum Ciptakan Lapangan Kerja Memadai

- detikFinance
Kamis, 28 Agu 2008 14:47 WIB
Kinerja Ekonomi Belum Ciptakan Lapangan Kerja Memadai
Jakarta - Di luar perkiraan berbagai kalangan, perekonomian Indonesia pada kuartal kedua 2008 mengalami pertumbuhan yang cukup meyakinkan.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih ditopang oleh kegiatan non tradeable yang kontribusinya lebih kecil terhadap produk domestik bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja.

Demikian antara lain hasil penelitian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI) yang disampaikan dalam acara Jumpa Pers LIPI di Ruang Seminar Widya Graha LIPI lantai 5, Jalan Gatot Subroto Kav 10, Jakarta, Kamis (28/08/08).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut peneliti P2E-LIPI Latif Adam, perekonomian Indonesia pada kuartal kedua 2008 tumbuh dengan angka 6,4%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2007 pada periode yang sama tumbuh sebesar 6,3%.

Sayangnya, sebagaimana terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, motor penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2008 masih tetap terfokus pada sektor non-tradeable, seperti listrik, gas, air minum, konstruksi, transportasi, keuangan, jasa dan lain sebagainya.

Di satu sisi, secara total sumbangan sektor non-tradeable terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai angka 73,4% (4,7% dari 6,4% pertumbuhan ekonomi), lebih tinggi dari kuartal kedua 2007 sebesar 65,1% (4,1% dari 6,3% pertumbuhan ekonomi)

Sedangkan sektor tradeable, seperti pertanian, pertambangan dan industri pengolahan, hanya menyumbang 26,6% terhadap pertumbuhan ekonomi (1,7% dari 6,4% pertumbuhan ekonomi), menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 34,9% (2,2% dari 6,3% pertumbuhan ekonomi).

Lebih lanjut Adam menjelaskan, apabila pola pertumbuhan ekonomi berlanjut di masa yang akan datang, maka pemerintah diperkirakan akan mengalami kesulitan untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan kemiskinan.

"Permasalahan ini harus menjadi perhatian semua pihak, karena di tahun 2009 pemerintah mempunyai target yang cukup ambisius untuk bisa menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan dalam proporsi yang cukup signifikan," paparnya.

"Kalau demikian permasalahannya, maka pemerintah sudah harus mulai serius menggarap sektor tradeable," tegasnya.

Dalam konteks pengembangan sektor tradeable, ada beberapa alasan mengapa sektor industri mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah.

Pertama, sektor industri mempunyai posisi yang strategis dalam berkontribusi terhadap kinerja ekspor. Kedua, beberapa penelitian menunjukkan bahwa forward dan backward linkages dari sektor ini relatif lebih dinamis dibandingkan dengan sektor lainnya.

"Akhirnya, sektor industri mampu menyediakan kesempatan kerja yang berkualitas dibandingkan dengan sektor tradeable lainnya," pungkasnya.
(ang/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads