Hal tersebut disampaikan Corporate Secretary Pertamina Sudirman Said dalam media gathering di Hotel Patra, Denpasar, Bali, Sabtu (30/8/2008) malam.
"Nilainya sekitar Rp 900 miliar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Khusus Tangani Distribusi BBM Subsidi
Pertamina mengusulkan adanya badan khusus atau unit khusus yang menangani distribusi BBM bersubsidi.
"Kami mulai berpikir adanya 1 badan khusus yang menangani distribusi BBM subsidi dan dilepaskan dari Pertamina, jadi real corporate company. Kalau ada unit khusus itu Pertamina bisa lebih sehat. Biar Pertamina yang mengurusi non subsidinya saja," ujar Sudirman.
Pertamina, lanjut Sudirman, sering dikritisi publik karena tidak adanya efisiensi dalam distribusi BBM subsidinya.
Padahal profit Pertamina dari penjualan BBM subsidi yang mengemban Public Service Obligastion (PSO) ini hanya sekitar 8 persen, sisa profit Pertamina datang dari non subsidi.
"Ini memang jadi beban daripada kenikmatan," ujarnya.
(ddn/qom)











































