Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Senin (1/9/2008).
"Selain berupaya mengatasi ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat menjelang hari besar keagamaan nasional, pemerintah juga harus mewaspadai dorongan terhadap laju inflasi dari kelangkaan dan kenaikan harga elpiji," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketetapan pemerintah yang akan mentoleransi kenaikan harga komoditas pangan pada kisaran 5-10% pun bisa menjadi blunder, karena berpotensi menstimulir gerak liar kenaikan harga komoditas pangan. Kecenderungan inilah yang dikhawatirkan akan mendongkrak inflasi sepanjang Ramadan hingga hari raya Idul Fitri," ucapnya.
Selain faktor toleransi kenaikan harga oleh pemerintah, Bambang menuturkan ancaman terhadap laju inflasi juga datang dari defisit pasokan beberapa komoditas, terutama defisit telur, cabai dan kacang tanah.
"Pemerintah memperkirakan sepanjang September, Oktober, dan Desember akan terjadi defisit suplai telur ayam ras 50.900 ton," katanya.
Ditambahkannya, mestinya defisit suplai komoditas kebutuhan pokok tidak dibiarkan terjadi. Sebab, defisit suplai beberapa komoditas ini akan memancing spekulan menahan barang untuk kemudian menaikan harga dengan skala tinggi.
"Kita apresiasi upaya pemerintah yang fokus pada upaya ketersediaan komoditas beras, gula pasir, minyak goreng, bawang merah, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, kacang tanah dan cabai guna mengamankan kebutuhan masyarakat merayakan hari besar keagamaan nasional, dari bulan ramadhan, idul fitri, natal hingga tahun baru," paparnya.
Bambang memperkirakan laju inflasi September dan Oktober berpotensi sama dengan Mei-Juni 2008, yang melonjak akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, lonjakan harga gas elpiji dan Kelangkaan BBM di sejumlah daerah, yang kemudian diikuti dengan lonjakan harga.
"Kecenderungan inilah yang harus diwaspadai. Karena itu, selain mengamankan ketersediaan dan distribusi, pemerintah sebagai regulator juga harus mampu mengendalikan harga," tandasnya.
(dnl/qom)











































