Kalla Kritik Rumah Mewah

Kalla Kritik Rumah Mewah

- detikFinance
Senin, 01 Sep 2008 15:12 WIB
Kalla Kritik Rumah Mewah
Jakarta - Dalam pandangan Wapres Jusuf Kalla, perekonomian Indonesia kian membaik. Tapi sayang, jurang si miskin dan si kaya masih sangat lebar. Ia pun mengkritik sebuah perumahan mewah yang dinilainya memenjara dirinya sendiri.

Kalla pun berkisah tentang kesenjangan antara rumah mewah dan perumahan kumuh ketika dirinya melintas di kawasan Kapuk, Jakarta Utara usai main golf beberapa waktu lalu.

"Kemarin saya nonton golf saya lewat di Kapuk. Agendanya mau ketemu Pak Ciputra bicara tentang pembangunan perumahan. Saya bilang disamping rumah luks seperti ini, segera kita mempercepat perumahan rakyat," kata Kalla sambil memandangi sebuah perumahan mewah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pandangan Kalla, sebuah perumahan mewah ditengah lingkaran gubuk-gubuk si miskin ibarat orang memenjarakan dirinya sendiri.

"Saya bilang apa enaknya hidup di sini di daerah ini. Semua rumah pake kawat berduri, pakai lampu sorot. Artinya memenjarakan diri sendiri. Kenapa anda memenjarakan diri sendiri? karena 1 Km dari sini banyak gubuk-gubuk yang bisa marah karena anda hidup mewah. Karena itu anda pasang satpam, kawat berduri, mungkin ada setrumnya," celoteh Kalla.

Hal ini dikatakan oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla saat memberikan pembekalan kepada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XII Lemhanas, di Gedung II, Sekretariat Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (1/9/2008).

Kalla pun mengimbau agar bangsa Indonesia tidak terus menerus hidup dalam kesenjangan yang tajam seperti gambaran di atas.

"Bangsa ini jangan begitu. Ada keseimbangannya. Kita berusaha sebagai wapres tentu kita semua harus memperbaiki keseimbangan itu. Jangan kita persulit keadaan. Jangan persulit izin," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kalla juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin bagus yang terlihat dari PDB yang semakin meningkat meski masih di bawah negara-negara tetangga.

"Income perkapita waktu krisis 10 tahun lalu 500 dolar, sekarangΒ  2.200 dolar per tahun. Itu sangat bagus, walaupun dibanding dengan Singapura, Malaysia, Thailand, pasti kita masih setengahnya. Masih 60% dibandingkan dengan Thailand, masih 10% dibandingkan dengan Singapura. Tapi dibanding dengan 10 tahun lalu sudah 5 kali lipat. Tapi masalahnya gap-nya masih harus diperbaiki," tutur Kalla.



(gun/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads