Pasar Minuman Ringan Stagnan di Bulan Puasa

Pasar Minuman Ringan Stagnan di Bulan Puasa

- detikFinance
Senin, 01 Sep 2008 15:02 WIB
Pasar Minuman Ringan Stagnan di Bulan Puasa
Jakarta - Permintaan terhadap produk-produk minuman ringan seperti air minum kemasan, minuman berkarbonasi dan jus diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan tinggi pada puasa dan lebaran tahun ini. Daya beli yang lemah menjadi salah faktor utama melemahnya permintaan.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Suroso saat dihubungi detikFinance, Senin (1/9/2008).

"Puasa lebaran kali ini peningkatan hanya berkisar 5%, sekarang ini yang menjadi masalah adalah daya beli masyarakat yang semakin lemah untuk minuman ringan, jika dengan bulan lalu memang naik," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakannya kondisi ini disebabkan karena kebutuhan masyarakat terhadap minuman ringan semakin tidak menjadi prioritas sebagai kebutuhan pangan.

"Sekarang permintaan minuman ringan masih tinggi di minuman air kemasan, untuk minuman karbonasi rendah, jus apalagi lebih rendah," katanya.

Meskipun demikian, untuk jenis minuman ringan tertentu seperti sirup akan mengalami kenaikan pada puasa dan lebaran namun tidak akan terlalu signifikan.

"Industri minuman ringan masih dihadapi oleh masalah tenaga kerja terutama kenaikan upah beberapa waktu lalu, daya beli masyarakat yang belum pulih," jelasnya.

Bahkan Suroso menambahkan, soal bahan baku terutama gula rafinasi yang selama ini menjadi masalah bagi industri pengguna gula. Termasuk soal kuota izin impor bagi industri pengguna gula, dinilainya belum menunjukan keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap industri pengguna gula.

"Pada dasarnya kami mendukung konsep swasembada gula, perlu ada timetable yang jelas. Kita diberikan izin impor misalnya sampai 2014, jangan seolah-olah kita dipaksa beli gula dalam negeri yang raw sugar-nya masih impor. Sepanjang kualitas, suplai dan harga yang memadai kita terima," paparnya.

Berdasarkan kebutuhan gula rafinasi untuk industri pengguna gula sebanyak 1 juta ton per tahun, hampir 660.000 ton berasal dari gula impor sedangkan sisanya dari gula dalam negeri.

"Perbedaannya per kilo bisa Rp 500, gula dalam negeri lebih mahal," katanya. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads