Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Suroso saat dihubungi detikFinance, Senin (1/9/2008).
"Puasa lebaran kali ini peningkatan hanya berkisar 5%, sekarang ini yang menjadi masalah adalah daya beli masyarakat yang semakin lemah untuk minuman ringan, jika dengan bulan lalu memang naik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang permintaan minuman ringan masih tinggi di minuman air kemasan, untuk minuman karbonasi rendah, jus apalagi lebih rendah," katanya.
Meskipun demikian, untuk jenis minuman ringan tertentu seperti sirup akan mengalami kenaikan pada puasa dan lebaran namun tidak akan terlalu signifikan.
"Industri minuman ringan masih dihadapi oleh masalah tenaga kerja terutama kenaikan upah beberapa waktu lalu, daya beli masyarakat yang belum pulih," jelasnya.
Bahkan Suroso menambahkan, soal bahan baku terutama gula rafinasi yang selama ini menjadi masalah bagi industri pengguna gula. Termasuk soal kuota izin impor bagi industri pengguna gula, dinilainya belum menunjukan keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap industri pengguna gula.
"Pada dasarnya kami mendukung konsep swasembada gula, perlu ada timetable yang jelas. Kita diberikan izin impor misalnya sampai 2014, jangan seolah-olah kita dipaksa beli gula dalam negeri yang raw sugar-nya masih impor. Sepanjang kualitas, suplai dan harga yang memadai kita terima," paparnya.
Berdasarkan kebutuhan gula rafinasi untuk industri pengguna gula sebanyak 1 juta ton per tahun, hampir 660.000 ton berasal dari gula impor sedangkan sisanya dari gula dalam negeri.
"Perbedaannya per kilo bisa Rp 500, gula dalam negeri lebih mahal," katanya. (hen/ir)











































