Hal ini disampaikan oleh Direktur Ekspor Hasil Industri dan Pertambangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan (Depdag) Hartojo Agus Tjahjono di gedung Depdag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (1/9/2008).
"Harga dari karet alam menunjukkan kecenderungan menurun dalam minggu-minggu yang akan datang, diperkirakan mencapai US$ 290-255 sen per kg," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan gejala yang sama pun dialami negara pengimpor karet alam lainnya seperti Jerman, Perancis, Inggris dan Italia juga mulai terkena resesi ekonomi. Bahkan, Bank of Japan telah menyatakan sedang menyiapkan diri menghadapi resesi.
Harga karet alam telah mencapai harga puncaknya pada tanggal 2 Juli 2008 yaitu seharga US$ US$ 325,74 sen per kilogram. Kemudian pada tanggal 20 Agustus 2008 turun menjadi US$ 277,96 sen per kilogram atau melorot hingga 14,67%.
Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga karet alam yaitu suplai karet dari negara produsen seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand yang sudah membaik karena karena cuaca yang mendukung.
Serta sentimen pasar yang menyebabkan harga minya dunia turun, yang berdampak pula pada penurunan harga karet.
(hen/ir)











































