Impor Gula Harus Stop di 2014

Impor Gula Harus Stop di 2014

- detikFinance
Senin, 01 Sep 2008 18:02 WIB
Impor Gula Harus Stop di 2014
Jakarta - Pemerintah menargetkan agar Indonesia bisa menghentikan impor gula baik gula putih maupun gula rafinasi pada tahun 2014. Pada tahun tersebut program restrukturisasi pabrik dan kebun gula sudah bisa memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

Demikian disampaikan oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelum melakukan rapat koordinasi soal gula di gedung Menko Perekonomian Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (1/9/2008).

"Akibat meningkatnya impor, Depperin usulkan pada tahun 2014, GKP (gula kristal putih) dan rafinasi itu tidak ada lagi impor, restrukturisasi pabrik gula dan perkebunan sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fahmi mengakui bahwa selama ini pasokan gula yang disuplai oleh industri dalam negeri belum memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga harus impor. Sekarang ini, lanjut Fahmi, stok gula dalam negeri cenderung over supply.

"Gula ini sekarang terjadi berbagai sudut pandang yang tajam diantara petani,produsen GKR, produsen GKP, impotirΒ  itu terjadi silang pendapat," ungkap Fahmi.

Ia menambahkan dari HPP gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 5000 justru tidak bisa dicapai oleh PTPN, ketika perusahaan plat merah iniΒ  melakukan tender

"Harga gula sudah tidak mencapai Rp 5000 ketika ditender di PTP, memang dari sisi lainnya konsumen diuntungkan harga gula murah," jelasnya.

Fahmi juga mengatakan adanya keinginan reekspor gulaΒ  dinilainya tidak mungkin dilakukan pada saatΒ  harga gulaΒ  jatuh akibat over supply. "Masalahnya tender di PTP, tidak ada yang mau membeli," katanya.

Dikatakannya sekarang ini industri gula nasional dihadapkan oleh masalah kualitas gula terutama dalam hal kualitas icumsa (kualitas warna gula).Β  Menurutnya untuk kadar icumsa untuk gula konsumsi mendcapai 100-200 IU (icumsa unit), sedangkan untuk gula rafinasi mencapai 45 sampai 80 IU.

"Pabrik gula kita ada yang 600 IU sampai coklat, dengan harga sekarang ini masyarakat lebih memilih yang putih," jelas Fahmi.

Sementara itu Meneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan bahwa sekarang ini yang terpenting adalah masalah over supply gula bisa segera diatasi.
Β 
"Yang penting sekarang ini over supply, tapi gula rafinasi sekarang ini banyak sekali," tambah Sofyan.

(hen/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads