Demikian disampaikan oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelum melakukan rapat koordinasi soal gula di gedung Menko Perekonomian Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (1/9/2008).
"Akibat meningkatnya impor, Depperin usulkan pada tahun 2014, GKP (gula kristal putih) dan rafinasi itu tidak ada lagi impor, restrukturisasi pabrik gula dan perkebunan sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gula ini sekarang terjadi berbagai sudut pandang yang tajam diantara petani,produsen GKR, produsen GKP, impotirΒ itu terjadi silang pendapat," ungkap Fahmi.
Ia menambahkan dari HPP gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 5000 justru tidak bisa dicapai oleh PTPN, ketika perusahaan plat merah iniΒ melakukan tender
"Harga gula sudah tidak mencapai Rp 5000 ketika ditender di PTP, memang dari sisi lainnya konsumen diuntungkan harga gula murah," jelasnya.
Fahmi juga mengatakan adanya keinginan reekspor gulaΒ dinilainya tidak mungkin dilakukan pada saatΒ harga gulaΒ jatuh akibat over supply. "Masalahnya tender di PTP, tidak ada yang mau membeli," katanya.
Dikatakannya sekarang ini industri gula nasional dihadapkan oleh masalah kualitas gula terutama dalam hal kualitas icumsa (kualitas warna gula).Β Menurutnya untuk kadar icumsa untuk gula konsumsi mendcapai 100-200 IU (icumsa unit), sedangkan untuk gula rafinasi mencapai 45 sampai 80 IU.
"Pabrik gula kita ada yang 600 IU sampai coklat, dengan harga sekarang ini masyarakat lebih memilih yang putih," jelas Fahmi.
Sementara itu Meneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan bahwa sekarang ini yang terpenting adalah masalah over supply gula bisa segera diatasi.
Β
"Yang penting sekarang ini over supply, tapi gula rafinasi sekarang ini banyak sekali," tambah Sofyan.
(hen/ddn)











































