Rasio Utang Turun RI Jadi 34%

Rasio Utang Turun RI Jadi 34%

- detikFinance
Selasa, 02 Sep 2008 09:07 WIB
Rasio Utang Turun RI Jadi 34%
Jakarta - Rasio utang yang merupakan besaran pinjaman luar negeri ditambah surat utang negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun menjadi 34% di tahun 2008.

Posisi rasio utang Indonesia terus melandai sejak tahun 2000 yang sebesar 88% dari PDB, 2001 sebesar 77% dari PDB, 2002 sebesar 67% dari PDB, 2003 sebesar 61% dari PDB, 2004 sebesar 56% dari PDB, 2005 sebesar 47% dari PDB, 2006 sebesar 39% dari PDB, dan 2007 sebesar 35,8% dari PDB.

Demikian data dari Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu yang di-updated 31 Juli 2008 seperti dilansir detikFinance, Selasa (2/9/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Total utang pemerintah hingga Juli 2008 mencapai Rp 1.462 triliun yang terdiri dari pinjaman luar negeri Rp 568 triliun dan SUN Rp 894 triliun.

Proporsi utang pemerintah terbanyak adalah dalam mata uang rupiah 54,2%, dolar AS 18,2%, yen Jepang 16,5%, euro 6,7%, lain-lain 3,7% dan poundsterling 0,8%.

Proporsi untuk utand dalam pinjaman luar negeri terbanyak berupa pinjaman bilateral 53,22%, multilateral 29,1%, kredit ekspor 17,57%, kredit komersial 0.09% dan leasing 0,01%.

Sedangkan pinjaman luar negeri dalam mata uang valas terbesar adalah yen Jepang sebanyak 42,5%, dolar AS 28,9%, euro 17,2%, lain-lain 9,5% dan poudsterling 1,9%.

Proporsi Pinjaman Luar Negeri berdasarkan Kreditor adalah Jepang 40,3%, lain-lain 17,8%, ADB 16%, Bank Dunia 13%, Jerman 6,2%, AS 4,2%, dan Inggris 2,5%.    

Stok Pinjaman Luar Negeri (PLN) mengalami penurunan tajam sejak 2004, sedangkan stok Surat Berharga Negara (SUN) mengalami peningkatan secara signifikan yang disebabkan oleh:
  1. Penerapan secara konsisten kebijakan penurunan PLN dan peningkatan penggunaan SUN Rupiah dari pasar domestik untuk pembiayaan APBN.
  2. Bertambahnya penerbitan SUN Rupiah karena semakin besarnya defisit dan kebutuhan refinancing (sebagian) PLN yang jatuh tempo.
       
Trend perkembangan persentase bunga/kupon utang terhadap utang yang outstanding secara keseluruhan menunjukkan Penurunan untuk bunga PLN,Peningkatan untuk kupon /diskonto SUN paska 2005, terutama karena:
Tingginya kupon dari SUN yang diterbitkan selama 2005, saat fluktuasi pasar tinggi akibat inflasi yang meningkat tajam disertai mass redemption dalam industri reksadana. Pembebanan dimuka atas diskonto dari SPN, yang diterbitkan mulai Mei 2007.

Sementara Yield (imbal hasil bagi investor) SUN yang semakin rendah sejak tahun 2002, menunjukkan bahwa biaya utang yang sebenarnya dari penerbitan SUN justru mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Kenaikan yield Juni 2007- 31 Juli 2008 disebabkan naiknya premi risiko akibat krisis subprime mortgage, ekspektasi kenaikan inflasi akibat naiknya harga minyak dan komoditas di pasar internasional.

Sejak 2005, SUN menjadi sumber utama pembiayaan APBN Peningkatan tambahan SUN (neto), terutama karena semakin besarnya defisit. Disisi lain tambahan PLN netto sehingga stoknya semakin menurun.

(ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads