Pada perdagangan Jumat (5/9/2008), pukul 10.10 waktu JATS, IHSG terpangkas hingga 54,240 poin (2,61%) ke level 2.020,994. Sementara rupiah merosot hingga 9.335 per dolar AS.
Indeks Hang Seng di Hong Kong tercatat turun hingga 562,67 poin (2,8%) ke level 19.826,81, Nikkei-225 merosot 319,05 poin ke level 12.238,61, Topix turun 30,54 poin (2,54%) ke level 1.171,11, atau berada di level psikologis 1.200.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekacauan bursa Asia dipicu oleh kekhawatiran melemahnya pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya inflasi dan anjloknya bursa-bursa utama dunia kemarin.
"Wall Street anjlok tajam karena kekhawatiran tentang data tenaga kerja AS dan meningkatnya kegamangan akan pertumbuha ekonomi dunia, terutama Eropa. Investor membuat aset-aset yang berisiko," jelas Nagayuki Yamagishi, analis dari Mitsubishi UFJ Securities seperti dikutip dari Reuters.
Yen Menguat Tajam
Sementara mata uang jepang, yen tercatat menguat tajam ke level tertingginya terhadap euro. Euro sempat terpuruk ke 150,51 yen, sebelum akhirnya sedikit membaik ke 152,25 yen.
Bahkan dolar AS yang menguat terhadap mata uang lainnya, tetap tak berdaya menghadapi yen. Dolar AS sempat melemah ke 105,70 yen sebelum membaik ke 106,84 yen.
Para analis mengatakan, investor melakukan carry trades sehubungan dengan anjloknya harga saham-saham dan meningkatnya risiko.
Carry trade merupakan perilaku investor yang mencari pinjaman dari negara dengan suku bunga rendah seperti Jepang, dan kemudian diinvestasikan kedalam mata uang yang memberi imbal hasil lebih tinggi seperti rupiah, ringgit dan peso. (qom/ir)











































