"Ini memang gejala global, mata uang dolar menguat terhadap semua mata uang di dunia. Rupiah mengalami pelemahan agak besar dibanding negara-negara lain hari ini, padahal beberapa minggu terakhir, rupiah lebih menguat dibanding kurs beberapa negara lain. Saya kira ini merupakan gerakan pasar, tapi secara fundamental enggak ada masalah," kata Gubernur BI Boediono.
Hal itu diungkapkan Boediono usai salat Jumat di kompleks BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (5/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan tanya angka deh. Tentunya kita akan terus ikuti gerak dari perkembangan kurs di dunia dan di beberapa kawasan lainnya. Tentunya kita tidak bisa melawan arus itu. Jadi kita tidak akan menargetkan satu angka. BI akan selalu memonitor terus," ujarnya.
Boediono mengatakan ekonomi AS tampaknya diprediksi lebih baik. "Tidak lebih baik dari Eropa atau Jepang. Dan bahkan di negara Asia barangkali. Sehingga terhadap semua mata uang, dolar menguat. Itu aneh juga ya. Tapi kita tetap di pasar untuk mengurangi volatilitas," katanya.
Untuk meredam pelemahan rupiah itu, BI akan berupaya mengurangi gejolak yang terlalu besar.
Ketika ditanya berapa besar dana intervensi yang dikeluarkan, Boediono menolak merincinya. "Ya amunisi kalau perang kan tidak pernah diberitahukan," tandasnya. (ir/ddn)











































