Pada perdagangan Selasa (9/9/2008) pukul 07.30 WIB, rupiah masih tenang di posisi 9.295 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.294 per dolar AS.
Sementara dolar AS kembali mencatat penguatan hingga level tertingginya dalam 11 bulan terakhir. Dolar terdorong oleh upaya pengambilalihan Fannie Mae dan Freddie Mac oleh pemerintah AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dolar AS juga menguat atas yen ke posisi 108,27 yen, dibandingkan sebelumnya di 107,86 yen.
Gubernur BI Boediono mengatakan, otoritas moneter akan terus menjaga volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga tidak membingungkan dunia usaha Indonesia. BI akan terus berada di pasar.
"Kita punya amunisi untuk jaga gejolak nilai tukar dan menjaga volatilitasnya. Sebab kalau volatilitas ini terlalu tajam naik turunnya, maka akan membingungkan sektor riil," kata Boediono, Senin malam (8/9/2008).
Dikatakannya, situasi ekonomi dunia yang dinilainya masih 'nervous' menjadi penyebab penguatan dolar AS terhadap mata uang lain termasuk rupiah.
"Pada situasi ini, investor ragu-ragu menaruh duitnya dimana, biasanya investor cari yang aman yaitu menaruh di rumahnya, jadi mereka menarik dananya ke negara mereka masing-masing," jelasnya.
Selain itu, lanjut Boediono, dolar AS dianggap tempat investasi yang aman, sehingga investor banyak berinvestasi pada mata uang ini.
"Dampaknya akhirnya ke semua mata uang termasuk rupiah. Jadi dalam jangka pendek dolar AS akan menguat, tapi kalau jangka panjang belum tahu," katanya.
Boediono menjelaskan, investor mengalihkan investasinya dalam bentuk dolar AS karena AS dinilai lebih bagus situasi ekonominya dibandingkan dengan Eropa dan Jepang.
"Jadi ini yang terjadi saat ini. Tapi kan ekonomi kita cukup tenang, kebijakan pemerintah tidak ada yang bertabrakan, jadi tidak banyak ramai-ramainya," tuturnya.
"Selain itu, situasi politik kita lebih tenang, Thailand sedang gonjang-ganjing, Malaysia juga, tapi kita lebih tenang," imbuhnya.
Sementara penjelasan mengenai penurunan cadangan devisa dari US$ 60 miliar pada akhir Juli 2008 menjadi US$ 58,4 pada akhir Agustus 2008, Boediono menjelaskan penurunan tersebut tidak hanya untuk intervensi BI menahan laju pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
"Memang ada biaya untuk di pasar, tapi ada juga yang digunakan untuk membayar utang. Meskipun begitu yang masuk juga ada dari migas dan sebagainya. Jadi kita akan terus mempertahankan tingkat cadangan devisa pada besaran yang aman," ucapnya.
(dnl/qom)











































