Pada perdagangan Selasa (9/9/2008), IHSG ditutup merosot hingga 79,246 poin (3,89%) ke level 1.958,652. Level ini merupakan yang terendah sejak 21 Agustus 2007. Indeks LQ 45 melemah 18,993 poin (4,56%) ke level 397,786, JII turun 15,722 (4,83%) ke level 309,678.
Perdagangan di seluruh pasar mencatat 57.504 kali transaksi pada volume 2.048 juta lembar saham senilai Rp 3,292 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 194 saham turun dan 48 saham stagnan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan saham-saham yang mencatat penguatan harga antara lain Bank Panin (PNBN) naik Rp 20 menjadi Rp 890, BISI International (BISI) naik Rp 75 menjadi Rp 3.100.
Sementara bursa-bursa regional cukup variatif, seperti Nikkei-225 yang turun 1,77%, Hang Seng turun 1,5%, China naik 0,11%, S&P/ASX turun 1,7%, Kospi turun 1,5%. Pelemahan bursa-bursa regional dipicu oleh aksi profit taking setelah penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali mengatakan, anjloknya IHSG secara tajam ini disebabkan penurunan harga-harga saham komoditas yang berkisar sekitar 10% hari ini.
"Penurunan IHSG terutama disebabkan anjloknya harga-harga saham komoditas seperti TINS, BUMI, INKP dan sebagainya yang mencapai kisaran 10% hari ini," ujar Mastono saat dihubungi detikFinance.
Mastono mengatakan, anjloknya harga-harga saham komoditas terutama disebabkan terjadinya pelepasan besar-besaran oleh investor-investor asing, yang kemudian diikuti juga oleh investor-investor lokal.
"Asing banyak lepas portofolio saham komoditas, yang kemudian diikuti oleh investor domestik. Tema penjualan besar-besaran hari ini di saham komoditas," papar Mastono.
Menurut Mastono, faktor utama yang mendorong asing buru-buru hengkang adalah isu perlambatan ekonomi dunia terutama di Eropa, India dan Amerika Serikat. "Slow down ekonomi Eropa, India dan AS berpengaruh cukup besar pada aksi buang saham hari ini," ujar Mastono.
Sementara di dalam negeri, faktor inflasi dan harga bahan bakar mempengaruhi aksi pelepasan saham besar-besaran.
Dampak penurunan IHSG juga diperkirakan bakal berpengaruh pada pemegang reksadana. Menurut Mastono, domestic fund mulai berhati-hati dengan redemption. "Pemegang reksadana kelihatannya juga mulai berancang-ancang keluar," ujar Mastono.
Meski Mastono mengatakan arah IHSG ke depan masih belum dapat diperkirakan, namun ia memberi sinyal kelihatannya IHSG masih akan berada dalam kondisi tidak menentu.
"Sejauh ini, belum kelihatan tanda-tanda asing akan kembali masuk. Sepertinya mereka masih menunggu result-result financial yang akan keluar bulan-bulan ini," ujar Mastono.
Sebagai antisipasi, Mastono menyarankan investor melakukan bargain hunting terhadap saham-saham yang baik secara fundamental maupun secara teknikal masih memiliki peluang untuk tetap naik.
"Untuk antisipasi pada keadaan seperti ini, investor bisa melakukan bargain hunting terhadap saham-saham tertentu yang secara fundamental maupun teknikal masih memiliki peluang naik harganya," imbuh Mastono.
(qom/ddn)










































