Pada perdagangan Selasa (9/9/2008), rupiah ditutup pada level 9.315 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.294 per dolar AS.
Pengamat valas Farial Anwar mengatakan, meski menguat tipis, namun BI dinilai tidak optimal menjaga rupiah. Meski ada intervensi, aksi profit taking juga mewarnai perdagangan hari ini. Nilai tukar rupiah yang berada di atas level Rp 9.300 bukanlah hal yang menggembirakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, dengan adanya aksi profit taking, kondisi rupiah saat ini belum bisa dikatakan menguat. Para spekulator justru sedang menguji kehandalan BI untuk menjaga rupiah agar tidak lari ke level Rp 9.400.
Apalagi menghadapi dolar yang terus menguat belakangan ini, BI diminta waspada agar rupiah tidak anjlok seperti pasar saham.
"Kita lihat saja, sekarang ini sedang panic selling di pasar saham, dan sedang panic buying di pasar dolar," katanya.
Penguatan dolar ini harus diwaspadai karena Indonesia masih banyak bergantung pada impor yang membutuhkan dolar. Terutama mengahdapi beberapa hari raya, kebutuhan impor pun meningkat.
Di sisi lain, para pemain saat ini juga lebih suka memegang dolar ketimbang menginvestasikan uangnya di pasar komoditas. Ini terlihat dari harga beberapa komoditas yang turun seperti minyak, nikel dan batubara.
(lih/qom)











































