Pada perdagangan Selasa (9/9/2008), indeks Dow Jones merosot hingga 279,11 poin (2,42%) ke level 11.231,63. Nasdaq merosot hingga 59,95 poin (2,64%) ke level 2.209,81.
Standard & Poor's 500 merosot 43,15 poin (3,40%) ke level 1.224,64, dengan nilai pasar tercatat merosot hingga US$ 3,1 triliun, setelah mencatat rekor tertingginya pada 9 Oktober 2007. S&P mencatat kinerja terburuk dalam setengah tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Selasa (9/9/2008) di London, minyak jenis Brent untuk pertama kalinya merosot hingga US$ 99,04 per barel, untuk pertama kalinya setelah April. Namun kontrak minyak Brent selanjutnya ditutup merosot 3,10 dolar ke level US$ 100,34 per barel.
Sementara kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Oktober juga merosot hingga 3,08 dolar ke level US$ 103,26 per barel.
Sementara saham Lehman Brothers juga merosot hingga 45% ke US$ 7,79 karena investor meragukan kemampuan bank investasi terbesar keempat di AS ini dalam meredam kerugian akibat eksposure mortgage.
Persentase penurunan harga saham Lehman ini merupakan yang terbesar semenjak bank tersebut go public pada tahun 1994.
"Saya kira isu pertama pada hari ini adalah Lehman. Setiap orang mulai bertanya bagaimana Lehman dapat menambah modal dan survive," jelas Hugh Johnson, chief investment officer dari Johnson Illington Advisor seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/9/2008).
Saham Lehman mulai merosot setelah munculnya kabar tentang kemungkinan masuknya investasi dari Korea Development Bank gagal. Kabar buruk Lehman berlanjut setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's menyatakan kemungkinan untuk memangkas peringkat kredit Lehman.
"Lehman telah diisukan sedang dalam masalah untuk sekarang ini, dan orang berharap bank Korea itu akan menalanginya. Namun mereka kini tidak yakin dengan apa yang terjadi," ujar Todd Leone dari Cowen & Co. (qom/qom)










































