Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (11/9/2008), kepemilikan AMI di LCGP per 31 Agustus 2008 tersisa 9,06%.
Pada 14-18 Juli 2008 lalu, LCGP melakukan penerbitan saham terbatas (rights issue) sebanyak 703.500.000 saham di harga Rp 127 per saham. Dalam aksi korporasi tersebut, AMI bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyers).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika mengacu pada harga rights issue sebesar Rp 127 per saham, artinya dana yang dikeluarkan AMI untuk mengeksekusi saham baru tersebut sebesar Rp 89,376 miliar.
Anehnya, pada tanggal 12 Agustus 2008, kepemilikan AMI di LCGP telah menurun sebanyak 154.412.000 saham menjadi 549.337.312 saham (46,13%).
Kemudian pada 25 Agustus 2008, AMI kembali melepas sebanyak 16.763.000 saham, sehingga kepemilikan AMI di LCGP tersisa 532.574.312 saham.
Dan pada 31 Agustus 2008, kepemilikan AMI tersisa 127.559.312 saham atau setara dengan 9,06% saham LCGP.
Jika mengacu pada porsi kepemilikan AMI pada 31 Juli 2008 yang masih sebanyak 703.749.312 saham, artinya dalam periode 1 bulan perdagangan, AMI telah melepas sebanyak 576.190.000 sahamnya di LCGP.
Dari sejumlah saham yang dilepas tersebut, sebanyak 150 juta saham dilepas pada harga Rp 20 per saham. Dana yang diperoleh AMI melalui pelepasan 150 juta saham LCGP sebesar Rp 3 miliar.
Sayangnya, dalam keterangannya perseroan tidak menyebutkan harga penjualan 426.190.000 saham LCGP lainnya. Namun jika mengacu pada harga saham LCGP periode 12-31 Agustus yang sebesar 50 per saham, dapat diasumsikan pelepasan 426,19 juta saham tersebut bernilai Rp 21,309 miliar.
Jika ditotal, seluruh pelepasan 576,19 juta saham atau sekitar 40,94% AMI di LCGP bernilai Rp 24,309 miliar, hampir 4 kali lebih rendah dari dana yang dikeluarkan AMI untuk mengeksekusi 50% saham LCGP Juli 2008 lalu.
Pertanyaannya adalah mengapa AMI mengobral saham LCGP, padahal ia baru saja masuk sebagai pemegang saham mayoritas LCGP Juli lalu.
Analis PT Eficorp Sekuritas, N Jaganathan mengatakan kemungkinan pelepasan saham AMI di LCGP terkait beberapa kondisi makro ekonomi yang menyebabkan saham properti terpuruk.
"Mungkin tujuan awal AMI masuk LCGP untuk ekspansi ke properti. AMI kan perusahaan media. Namun sektor properti yang sudah over supply ditambah tingkat BI Rate yang tinggi, menyebabkan sektor properti menjadi stagnan. Mungkin saja alasan tersebut yang menjadi alasan AMI buru-buru melepas sahamnya dari LCGP," papar Jaganathan.
Pergerakan saham LCGP memang tidak terlalu tinggi. Posisi tertingginya di level Rp 86 per saham pada bulan Mei 2008. Rupanya setelah rights issue Juli lalu, harga saham LCGP langsung anjlok ke kisaran Rp 50 per saham. Sejak 12 Agustus 2008 hingga hari ini, Kamis (11/9/2008), harga saham LCGP tidak pernah bergerak dari Rp 50 per saham.
(dro/qom)











































