IHSG Terperosok ke 1.870

IHSG Terperosok ke 1.870

- detikFinance
Kamis, 11 Sep 2008 16:17 WIB
IHSG Terperosok ke 1.870
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sangat bergejolak. Dibuka menguat, IHSG selanjutnya melemah dan sempat anjlok tajam hingga 1.848,249 atau terendah sejak April 2007.

Namun kemerosotan IHSG bisa berkurang pada menit-menit akhir. Dan pada perdagangan Kamis (11/9/2008), IHSG akhirnya ditutup turun 14,910 (0,79%) ke level 1.870,133. Posisi ini adalah yang terburuk sejak 3 April 2007, saat IHSG ditutup menyentuh 1.894.

Indeks LQ 45 juga melemah 3,408 poin (0,90%) ke level 376,005. Perdagangan di seluruh pasar mencatat 61.997 kali transaksi pada volume 2.827 juta lembar saham senilai Rp 3,181 triliun. Sebanyak 84 saham naik, 80 saham turun dan 80 saham stagnan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham perbankan, grup Astra tertunduk lesu. Saham-saham yang mengalami penurunan harga di top loser antara lain Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.000, seperti Astra International (ASII) turun Rp 1.950 menjadi Rp 17.350, BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 5.400, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 50 menjadi Rp 10.300, Timah (TINS) turun Rp 140 menjadi Rp 1.550.

Sedangkan Bumi Resources (BUMI) yang sebelumnya terpuruk dan menyebabkan kemerosotan IHSG akhirnya bisa mampu menahan laju penurunan IHSG hari ini. Saham BUMI naik Rp 175 menjadi Rp 3.675.

Saham-saham lain yang berhasil menguat di top gainer antara lain PGN (PGAS) naik Rp 100 menjadi Rp 2.050, Bakrie Brothers (BNBR) naik Rp 40 menjadi Rp 790, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 10 menjadi Rp 1270, Energi Mega Persada (ENRG) naik Rp 20 menjadi Rp 600.

Sementara saham-saham di bursa Asia hari ini juga berguguran, dan untuk diluar Jepang turun hingga level terendahnya sejak Oktober 2006. Indeks Nikkei-225 tercatat merosot 2%, ke level terendahnya dalam 6 bulan terakhir, Hang Seng turun 2,7% ke level terendah dalam 1 tahun terakhir.

"Kami percaya bahwa kekhawatiran soal inflasi sudah berkurang, dan sekarang kekhawatiran baru meluas tentang perlambatan ekonomi di Eropa, Jepang dan negara berkembang. Dalam pandangan kami, risiko ini sungguh nyata," kata Adrian Mowat, analis dari JP Morgan seperti dikutip dari Reuters.

Gejolak di pasar saam dan obligasi sebagaimana pelemahan ekonomi hanyalah sebagian dari upaya investor-investor dunia untuk mengurangi risiko portofolionya dan menyokong dolar AS.

"Arah pasar kini pada posisi beli untuk dolar. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah sebuah posisi penyesuaian dari sebuah gambaran lebih besar, dimana investor berbalik ke pasar uang dari aset-aset yang berisiko," ujar Hideaki Inoue, chief manager forex Mitsubishi UFJ Trust Bank.
(qom/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads