Pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (12/9/2008), IHSG terpuruk hingga 74,703 (3,99%) ke level 1.795,430. Posisi ini merupakan yang terendah sejak 28 Maret 2007, saat IHSG menyentuh level 1.800,391. Hari ini IHSG menyentuh level terendahnya di 1.792,169.
Indeks LQ 45 anjlok 17,844 poin (4,75%) ke level 358,161. Sementara nilai tukar rupiah masih terkulai di 9.450 per dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saham Astra merosot tajam setelah JP Morgan memangkas proyeksi saham menyusul tren penjualan mobil yang sudah mencapai puncak dan diperkirakan akan turun dalam beberapa bulan mendatang. ASII turun Rp 1.900 (10,95%) ke level Rp 15.450. Saham Grup Astra lain yang ikut turun adalah United Tractor (UNTR) turun Rp 850 menjadi Rp 8.550, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 450 menjadi Rp 12.350.
Saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Telkom (TLKM) turun Rp 250 menjadi Rp 6.950, BRI (BBRI) turun Rp 200 menjadi Rp 5.200, PGN (PGAS) turun Rp 100 menjadi Rp 1950, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 200 menjadi Rp 2.425.
Sedangkan saham-saham yang masih mampu naik antara lain Bumi Resources (BUMI) naik Rp 25 menjadi Rp 3.700, Trada Maritime (TRAM) naik Rp 26 menjadi Rp 240, Kertas Basuki Rahmat (KBRI) naik Rp 5 menjadi Rp 345.
Analis saham Edwin Sinaga mengatakan, kemerosotan IHSG kali ini merupakan emosi para spekulan semata. IHSG belum memiliki arah pergerakan yang pasti.
"Siklusnya belum jelas arahnya mau kemana. Kemarin saham telekomunikasi dan perbankan normal, sekarang malah tidak normal. Jadi belum ketahuan maunya kemana," katanya ketika dihubungi detikFinance.
Kalau dilihat secara global, turunnya saham di bursa Indonesia tidak bisa lepas dari penurunan harga minyak dan komoditas tambang. Apalagi pasar saham Indonesia sangat bertumpu pada dua komoditas tersebut.
Di saat seperti ini, menurut Edwin, sebaiknya pemain saham melihat faktor fundamental secara makro. Karena penurunan harga minyak sebenarnya juga berdampak positif pada kekuatan marko ekonomi Indonesia dengan turunnya subsidi BBM.
"Kalau harga minyak turun, kan subsidi BBM turun. Jadi kalau bicara inflasi dan sebagainya, keadaan akan membaik," ujarnya.
Sayangnya, banyak pemain yang tidak berpikir kesana sehingga lebih banyak yang emosi dengan cara menjual saham-saham koleksinya. Dengan kondisi seperti ini, menurut Edwin inilah saatnya pemain long term mulai mengoleksi saham-saham murah di pasaran dan menahannya paling cepat tiga bulan. (qom/ddn)











































