Pada perdagangan sesi I Jumat (12/9/2008), IHSG sempat anjlok ke level 1767, namun kemudian ditutup di level 1804, turun 66 poin dibanding penutupan sehari sebelumnya di level 1870.
Pada penutupan pekan lalu, Jumat (5/9/2008), IHSG berada di level 2022. Saat pembukaan sesi I Senin (8/9/2008), IHSG sempat rebound 41 poin ke level 2063. Pengambilalihan dua perusahaan pembiayaan rumah AS, Fannie Mae dan Freddie Mac membawa angin segar bagi penguatan bursa-bursa Asia, termasuk IHSG. Hari itu, IHSG ditutup menguat 15 poin di level 2037.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir, tampak melawan arus indeks-indeks regional lainnya, terutama indeks Dow Jones, Nasdaq dan S&P. Pada penutupan Jumat (12/9/2008), Dow Jones ditutup di level 4.101, naik 102 poin dari penutupan akhir pekan lalu. Nasdaq ditutup di level 2.261, turun tipis 6 poin dari penutupan pekan lalu. S&P ditutup di level 285, naik 2 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu.
Pertumbuhan ekonomi global yang melambat mendorong harga komoditas terus bergerak dalam trend melemah. Harga minyak bahkan sempat menyentuh level US$ 100/barel. Intervensi OPEC dengan langkah penurunan produksi tidak berpengaruh terlalu banyak. Hal tersebut menyebabkan saham berbasis komoditas yang selama ini menjadi penopang IHSG, berada dalam tekanan jual. Investor asing memilih melepas portofolio mereka di saham berbasis komoditas. Aliran dana keluar (capital outflow) terefleksikan menekan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Situasi bursa diperburuk oleh indikasi naiknya suku bunga perbankan sebagai imbas
dari likuditas ketat. Beberapa saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti ASII
anjlok -20% dalam dua hari perdagangan terakhir. Masih belum ada sinyal atau sentimen yang akan mampu menahan kemerosotan indeks dalam jangka pendek.
Beberapa analis saham memprediksi target support IHSG berikutnya ada di level 1.737. (dro/qom)











































